Bagi Azis Kuswoyo, koran Jawa Pos dan Radar Jember bukan sekadar media biasa atau sumber penghasilan semata. Sejak putus sekolah, 40-an tahun yang lalu, dia sudah bergelut dengan informasi dan terus berlanjut hingga sekarang.
AHMAD MA'MUN, RADARJEMBER.ID
AZIS Kuswoyo bisa dibilang menghabiskan waktu puluhan tahun bersama media, terutama media cetak. Tak ketinggalan, Jawa Pos dan Radar Jember pun menjadi sumber informasi yang akurat, dan dia terus menjadi promotor informasi sampai dunia modern saat ini.
Profesi sebagai loper, diakui Aziz, dilakukan karena saat itu dirinya harus banyak membantu orang tua. Aziz kemudian terjun untuk berjualan koran. Jasanya kepada khalayak umum tidak bisa dihitung jari. Dia penyambung informasi akurat kepada warga Jember dengan mangkal di simpang empat Argopuro.
Pascareformasi dulu, Azis Kuswoyo bersemangat, karena ada satu-satunya media lokal yang menyajikan informasi penting seputar Jember dan Tapal Kuda. Kehadiran Jawa Pos Radar Jember saat itu banyak memberi informasi kepada masyarakat karena beritanya tidak mengada-ada, akurat, diliput langsung oleh wartawan, dan tidak asal comot. Semua isi dalam Jawa Pos dan Radar Jember dapat dipertanggungjawabkan.
BACA JUGA: Cerita Pengecer Koran Radar Jember, Optimistis karena Beritanya Bebas Hoax
Aziz bisa dibilang adalah sosok yang besar di jalanan. Saat mulai berjualan, dia baru berusia belasan tahun. Dirinya terdorong oleh sulitnya perekonomian dan kebutuhan hidup sehari-hari. Dia pun terus belajar dan lihai menawarkan pentingnya informasi kepada warga, terutama di simpang empat Argopuro.
Sejak saat itu, banyak orang ataupun pejabat yang kebingungan jika tidak melihat Azis. Sebab, pelanggannya mayoritas pengendara yang mempunyai jam dinas. Dia penyambung informasi kredibel dan tidak ada kabar bohongnya.
Suatu ketika, Aziz pernah dicari banyak orang. Azis beberapa kali absen meloper koran. Dia pun meminta maaf kepada warga yang membutuhkan informasi karena libur mangkal di hari itu. "Pengendara itu tanya, ke mana kemarin kok tidak ada, saya lihat-lihat. Kadang saya sakit," ujarnya. Menurutnya, dengan menjadi loper koran, bukan hanya uang yang didapat, namun pengendara yang setiap hari bertemu dalam tenggang waktu pergantian lampu merah pun menjadi sahabat.
Kini, Azis termasuk loper koran senior di Jember. Simpangan empat Argopuro adalah tempatnya bekerja. Setiap hari dia mangkal dari pukul 06.00 dan pulang setelah semua koran ludes terjual. Paling sering dia pulang pukul 10.00 dan terkadang lewat dari jam itu. "Saya mengambil puluhan koran ke agen. Setelah ludes terjual, nanti saya dapat penghasilan dari hasil penjualan tersebut," kata pria asal Desa Ajung tersebut.
Menurut dia, menjadi loper koran di jalanan termasuk mengajak masyarakat untuk menghargai sebuah tulisan yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan. Sumbernya jelas dan sesuai. Pengalaman yang dialami Azis Kuswoyo, beberapa pengendara tetap menjadikan koran sebagai rujukan informasi.
"Misalkan hari ini ada kejadian, beberapa orang menunggu koran keesokan hari dari saya untuk dibaca," imbuh Azis. Orang-orang menunggunya untuk mendapatkan informasi yang valid dan utuh.
Menurut dia, berita olahraga menjadi salah satu daya tarik bagi pengendara. Azis pun berpesan agar berita olahraga tetap ditulis. Media lain yang bukan Jawa Pos Radar Jember tidak mampu menyajikan berita lokal, regional, nasional, bahkan internasional untuk urusan berita olahraga.
"Mereka pasti tanya, mana berita olahraganya. Jadi, saya mohon itu terus diberitakan setiap hari. Seperti sepak bola Persid Jember atau olahraga yang lainnya," pintanya saat ditemui di pangkalan loper, simpang empat Argopuro.
Sejauh ini, Azis Kuswoyo merasa terbantu dengan banyak hal. Dengan profesi lopernya, bukan hanya kepentingan bisnis, paling tidak, masyarakat bisa sadar pentingnya informasi yang kredibel dan diperoleh melalui cara-cara profesional. "Minimal masyarakat sadar bahwa sesuatu yang bagus, pasti mempunyai nilai," pungkasnya. (*)
Foto : Ahmad Ma’mun
Editor : Nur Hariri Editor : Maulana Ijal