BACA JUGA: Pentingnya Pengaturan untuk Jasa Angkutan
Kepala Terminal Tawang Alun Pudjiono mengatakan, kondisi lin kuning atau angkutan dalam kota saat ini sudah mengalami peningkatan dibanding pada tahun 2019 sampai 2021. “Hal ini tentunya karena pelonggaran aktivitas masyarakat kembali," jelas Pudji kepada Jawa Pos Radar Jember.
Jumlah penumpang setiap hari terus bertambah, seiring dengan laju aktivitas masyarakat yang semakin mengalami perbaikan ekonomi. Saat ini jumlah lin kuning yang beroperasi sekitar 59 sampai 70 armada setiap harinya. "Dengan rata-rata penumpang turun sekitar 39 orang, dan penumpang naik atau berangkat sebanyak 28 orang," terangnya.
Jumlah ini bisa dibilang mulai stabil jika dibandingkan dengan kondisi 2 tahun sebelumnya. "Penyebabnya adalah keadaan ekonomi masyarakat yang menurun akibat terjadinya pandemi," tegas Pudji di sela-sela berlibur bersama keluarga di rumahnya, (21/5) kemarin.
Untuk kondisi trayek saat ini masih dikatakan sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada perombakan jalur trayek. Ada jalur Tawang Alun–Arjasa, Tawang Alun–Pakusari, Tawang Alun–kampus, Tawang Alun–Kreongan, Tawang Alun–Geladak Pakem, Tawang Alun–Geladak Kembar. "Hanya saja, memang kalau dikatakan ada penurunan jumlah penumpang, memang ada. Untuk trayeknya masih sama," ucap Kepala Terminal Tipe A yang berada di Jalan Dharmawangsa, Krajan, Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, itu.
Sedangkan untuk jumlah kendaraan bus dalam kota maupun antarprovinsi yang beroperasi di terminal tipe-A tersebut berkisar 124 kendaraan. Dengan jumlah penumpang datang atau turun rata-rata 288 orang tiap harinya. Sedangkan penumpang berangkat atau naik sekitar 459 orang setiap harinya. "Bisa dikatakan jumlah penumpang naik dan turun berjumlah 747 orang setiap harinya," ungkapnya.
Untuk trayek bus yang beroperasi di Terminal Tawang Alun cukup bervariasi. Di antaranya Bali, Banyuwangi, Lumajang, Probolinggo, Malang, Surabaya, Trenggalek, Madura, Jogjakarta, Cilacap, Bogor, Semarang, Kuningan, Merak, Medan, Palembang. "Hanya saja, trayek favorit hingga saat ini masih Surabaya, Madura, dan Jogjakarta," ucapnya.
Untuk saat ini, memang terjadi penurunan jumlah kendaraan yang beroperasi maupun penumpang datang dan berangkat. Ada banyak faktor yang menyebabkan pengurangan tersebut. Di antaranya naiknya jumlah kendaraan pribadi. "Bisa jadi karena adanya armada alternatif yang digunakan oleh masyarakat sebagai pengganti bus, seperti jasa travel," ujarnya.
Pudji menyebutkan, setiap harinya terdapat 22 kendaraan angkot (MPU antarkota) yang beroperasi. Kendaraan tersebut tentunya dengan trayek yang berbeda-beda, dan sampai ini belum ada perombakan khusus terkait trayek tersebut. "Karena selama ini kami masih melihat intensitas penumpang dalam kondisi normalnya. Kalau kemarin mungkin masih dalam kondisi Lebaran dan masih pandemi, belum normal penuh," jelasnya. (mg8/c2/nur) Editor : Safitri