Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Cerita Asma’i, Bertahan Jadi Tukang Sol Sepatu

Safitri • Selasa, 15 Maret 2022 | 19:08 WIB
BEKERJA: Asma
BEKERJA: Asma
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Era modern seperti sekarang, banyak lini pekerjaan yang terancam hilang. Salah satunya adalah tukang sol sepatu. Namun demikian, di Jember masih terdapat sejumlah warga yang bertahan pada pekerjaan tersebut.

Asma'i merupakan salah satu warga yang sempat berhenti menjadi tukang sol sepatu. Namun, dia kembali lagi menggelutinya. Siang itu, pria tersebut fokus menjahit sepatu milik warga.

Menurutnya, dia menjadi tukang sol sepatu sudah cukup lama. Sejak era Reformasi saat sepatu tidak melimpah seperti sekarang. "Sejak tahun 1998, pas Reformasi," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Setelah cukup lama menggeluti pekerjaan sol sepatu dan sandal, Asma’i mengaku sempat berhenti. Dia kemudian bekerja sebagai buruh di sebuah jasa penggilingan milik warga. Namun, pria yang tinggal di Lingkungan Sawahan, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates, itu mengaku tidak bisa meneruskan pekerjaan selep karena terbentur waktu. Tak lama setelah itu, dia pun memilih untuk berhenti dan menggeluti dunianya kembali, sebagai tukang sol sepatu.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Asma’i mengaku dirinya kembali pada pekerjaan awal karena lebih bebas dan tidak terikat jam kerja. Hal itulah yang meneguhkan dirinya bahwa dia ingin bekerja dengan jam bebas. Tidak terikat oleh waktu.

Sementara itu, di sela-sela pekerjaannya, Asma'i mengaku menjadi tukang sol sepatu hanya modal nekat. Awalnya dia hanya coba-coba, tetapi dia menjadi enjoy. Dia pun terus menjadi tukang sol sepatu.

Asma’i menyebut, penghasilan untuk menjadi tukang sol sepatu bisa ditebak. Hanya sebesar Rp 12 ribu untuk setiap pasang sepatu yang dia kerjakan. Jika sehari mampu mendapatkan sepuluh pasang sepatu, maka dirinya menerima upah Rp 120 ribu. Dari rezeki itu, dirinya bisa menjalani hidup bersama keluarga sejak 1998 silam.

Hal yang menurutnya sangat berharga adalah menghargai waktu. Dia nyaman dengan pekerjaan tersebut karena bisa setiap saat kumpul bersama keluarga. Baginya, uang besar memang menjadi kebutuhan bagi siapa saja. Akan tetapi, tidak semua orang bisa menghargai keluarga yang terkadang membutuhkan secara mendadak. “Hasilnya memang tidak pasti, kadang bisa sampai sepuluh lebih. Kadang hanya lima sehari,” pungkasnya.

 

Jurnalis : mg5
Fotografer : mg5
Redaktur : Nur Hariri Editor : Safitri
#Jember #Jember Hari Ini