Ya, di Teaching Factory (Tefa) Smart Green House (SGH) milik Politeknik Negeri Jember (Polije) pengunjung tak hanya dapat memetik dan menikmati manisnya buah melon yang baru saja dipanen. Di tempat ini, pengunjung dapat belajar tentang budidaya melon hidroponik, mulai dari penanaman, perawatan, hingga produksi atau panen.
Istimewanya, metode penanaman melon di SGH ini berbeda dengan penanaman melon konvensional atau pada umumnya. Mula-mula bibit melon tak langsung ditanam dalam tanah lapang. Namun, bibit dimasukkan ke dalam polybag berisi kokopit atau serbuk serabut kelapa. Kemudian, bibit mulai ditanam di tanah seperti pada umumnya tanpa melepaskan kokopitnya. "Satu tanaman dimasukkan ke dalam polibag khusus. Dengan begitu, saat diberi nutrisi, proses penyerapan unsur haranya hanya terfokus ke satu tanaman itu sendiri," ungkap Fendi Hermawan, koordinator lapang SGH Polije.
Tak hanya medianya yang berbeda, lahan yang digunakan juga sangat berbeda dengan lahan melon biasanya. Lahan penanaman melon ini tertutup dan selalu dalam keadaan steril. Oleh karenanya, setiap pengunjung yang akan masuk ke SGH ini harus terlebih dahulu melepas alas kakinya dan menggunakan cairan desinfektan khusus yang disediakan di pintu masuk. Inilah yang membuat kualitas melon di SGH juga berbeda dengan melon yang ada di pasaran.
Perawatan melon di SGH juga dilakukan secara otomatis. Baik untuk sistem pemupukan dan irigasi, maupun iklim mikro atau suhu di dalam ruangan. "Kita siapkan blower, kipas, untuk menarik udara panas agar iklim mikro sesuai dengan prasyarat tumbuh yang dibutuhkan tanaman. Operasional sudah tersistem secara otomatis. Jika suhu di atas 32 derajat Celsius kipas akan on secara otomatis, jika dibawah 30 derajat dia juga off otomatis," lanjut Fendi.
Karena tanaman melon merupakan tanaman musiman atau hanya memiliki kesempatan satu kali berbuah, maka perawatannya harus dilakukan secara maksimal untuk mendapatkan buah yang berkualitas. Selain itu, di lahan yang memiliki luas 2.500 meter persegi ini, waktu penanamannya juga tidak semuanya berbarengan. Artinya, usia dan masa panen tanaman melon tidak sama meskipun dalam satu tempat yang sama. "Kami tidak tergantung musim, karena penanamannya bertahap. Jadi sepanjang tahun, tanaman bisa kami panen," ujarnya.
Tanaman melon biasanya bisa dipanen setelah berusia tiga bulan dari waktu penanaman. Sementara, jumlah tanaman melon di sini, setidaknya terdapat sekitar 2.600 tanaman. Agar produksi dapat terus berjalan, SGH menerapkan untuk melakukan penanaman degan jarak waktu dua minggu sekali.
Jurnalis: Delfi Nihayah
Fotografer: Delfi Nihayah
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Maulana Ijal