alexametrics
27.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Kembangkan Pertanian Sistem Hidroponik, Hasilnya Lebih Menguntungkan

Problem input e-RDKK yang berimbas terhadap berkurangnya jatah pupuk bersubsidi dampaknya sangat dirasakan para petani. Tapi ternyata, tak semua petani merasakan efek itu. Salah satunya adalah Khudaibiyyah Hasbi, seorang petani yang menggeluti pertanian sistem hidroponik.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu, Deby sudah sibuk dengan tandon air di kebunnya. Matanya terus mengamati air yang mengalir di dalam pipa-pipa seukuran paha remaja. Paralon inilah yang menjadi tempat meletakkan ribuan tanaman hidroponik yang dia kembangkan. “Kalau kurang air ya ditambah, kalau tidak ya tidak usah,” kata petani yang memiliki nama panjang Khudaibiyyah Hasbi tersebut.

Bermodalkan lahan kosong, Deby memanfaatkannya menjadi lahan bercocok tanam. Dia tak menggarap lahan itu secara konvensional, melainkan memilih pertanian hidroponik. Tepatnya pada Agustus 2019 lalu. Perempuan 35 tahun tersebut menuturkan, banyak tanaman yang dia budi dayakan sejak saat itu. Di antaranya, selada, pakcoi atau sawi sendok, sawi samhong, sayur kailan, bayam merah, bayam hijau, dan kangkung. “Sampai saat ini, sudah ada sekitar 5.300 lubang yang digunakan untuk bercocok tanam,” terangnya.

Dia menjelaskan, cara bercocok tanamnya cukup mudah. Namun, pasokan air tidak sampai telat. Sebab, nyawa tanaman dengan sistem hidroponik itu memang terletak pada air. Selain itu, kata dia, pola harus berkala supaya masa panennya tidak berbarengan. “Jadi, setiap hari harus rajin mengontrol intensitas dan kualitas airnya. Seperti pH air dan nutrisi A B mix yang dibutuhkan tanaman,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Karena tanaman hidroponik itu nonpestisida, maka dirinya tidak memakai hal-hal yang berbahan kimia. Termasuk untuk pupuk yang digunakan. Dia hanya menggunakan nutrisi yang dibuat secara mandiri. “Bahan yang saya buat berbahan unsur hara makro. Saya juga menggunakan nutrisi A dan B yang dicampurkan ke dalam tandon air. Jadi, tidak terdampak meski pupuk subsidi langka,” ucap perempuan yang mengembangkan pertanian di Desa Labruk Lor, Kecamatan/Kabupaten Lumajang, tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu, Deby sudah sibuk dengan tandon air di kebunnya. Matanya terus mengamati air yang mengalir di dalam pipa-pipa seukuran paha remaja. Paralon inilah yang menjadi tempat meletakkan ribuan tanaman hidroponik yang dia kembangkan. “Kalau kurang air ya ditambah, kalau tidak ya tidak usah,” kata petani yang memiliki nama panjang Khudaibiyyah Hasbi tersebut.

Bermodalkan lahan kosong, Deby memanfaatkannya menjadi lahan bercocok tanam. Dia tak menggarap lahan itu secara konvensional, melainkan memilih pertanian hidroponik. Tepatnya pada Agustus 2019 lalu. Perempuan 35 tahun tersebut menuturkan, banyak tanaman yang dia budi dayakan sejak saat itu. Di antaranya, selada, pakcoi atau sawi sendok, sawi samhong, sayur kailan, bayam merah, bayam hijau, dan kangkung. “Sampai saat ini, sudah ada sekitar 5.300 lubang yang digunakan untuk bercocok tanam,” terangnya.

Dia menjelaskan, cara bercocok tanamnya cukup mudah. Namun, pasokan air tidak sampai telat. Sebab, nyawa tanaman dengan sistem hidroponik itu memang terletak pada air. Selain itu, kata dia, pola harus berkala supaya masa panennya tidak berbarengan. “Jadi, setiap hari harus rajin mengontrol intensitas dan kualitas airnya. Seperti pH air dan nutrisi A B mix yang dibutuhkan tanaman,” paparnya.

Karena tanaman hidroponik itu nonpestisida, maka dirinya tidak memakai hal-hal yang berbahan kimia. Termasuk untuk pupuk yang digunakan. Dia hanya menggunakan nutrisi yang dibuat secara mandiri. “Bahan yang saya buat berbahan unsur hara makro. Saya juga menggunakan nutrisi A dan B yang dicampurkan ke dalam tandon air. Jadi, tidak terdampak meski pupuk subsidi langka,” ucap perempuan yang mengembangkan pertanian di Desa Labruk Lor, Kecamatan/Kabupaten Lumajang, tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu, Deby sudah sibuk dengan tandon air di kebunnya. Matanya terus mengamati air yang mengalir di dalam pipa-pipa seukuran paha remaja. Paralon inilah yang menjadi tempat meletakkan ribuan tanaman hidroponik yang dia kembangkan. “Kalau kurang air ya ditambah, kalau tidak ya tidak usah,” kata petani yang memiliki nama panjang Khudaibiyyah Hasbi tersebut.

Bermodalkan lahan kosong, Deby memanfaatkannya menjadi lahan bercocok tanam. Dia tak menggarap lahan itu secara konvensional, melainkan memilih pertanian hidroponik. Tepatnya pada Agustus 2019 lalu. Perempuan 35 tahun tersebut menuturkan, banyak tanaman yang dia budi dayakan sejak saat itu. Di antaranya, selada, pakcoi atau sawi sendok, sawi samhong, sayur kailan, bayam merah, bayam hijau, dan kangkung. “Sampai saat ini, sudah ada sekitar 5.300 lubang yang digunakan untuk bercocok tanam,” terangnya.

Dia menjelaskan, cara bercocok tanamnya cukup mudah. Namun, pasokan air tidak sampai telat. Sebab, nyawa tanaman dengan sistem hidroponik itu memang terletak pada air. Selain itu, kata dia, pola harus berkala supaya masa panennya tidak berbarengan. “Jadi, setiap hari harus rajin mengontrol intensitas dan kualitas airnya. Seperti pH air dan nutrisi A B mix yang dibutuhkan tanaman,” paparnya.

Karena tanaman hidroponik itu nonpestisida, maka dirinya tidak memakai hal-hal yang berbahan kimia. Termasuk untuk pupuk yang digunakan. Dia hanya menggunakan nutrisi yang dibuat secara mandiri. “Bahan yang saya buat berbahan unsur hara makro. Saya juga menggunakan nutrisi A dan B yang dicampurkan ke dalam tandon air. Jadi, tidak terdampak meski pupuk subsidi langka,” ucap perempuan yang mengembangkan pertanian di Desa Labruk Lor, Kecamatan/Kabupaten Lumajang, tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/