Salah satu yang menjalankan usaha itu adalah Asmawati beserta suaminya, Slamet Riyadi. Dalam membuat kue-kue kacang tersebut, pasangan suami istri (pasutri) ini merupakan pendatang baru. "Sejak tahun 2020 kemarin mulai mencoba usaha kue ini," aku Asmawati.
Keduanya mengisahkan, jauh sebelum dia membuka usaha kue itu, warga setempat, utamanya ibu-ibu, sudah mengawali membuat kue-kue kacang, kemudian dijual lagi. Bahkan, saking banyaknya warga di sana yang membikin kue, Desa Tegalrejo sampai dikenal sebagai sentra produksi kue kacang.
Hal itu rupanya ditangkap sebagai peluang usaha oleh ibu muda 26 tahun ini. Awalnya, kata dia, Asmawati tak langsung membuat kue. Dia membeli kue-kue tetangganya itu untuk dijual kembali. "Saat itu penjualan tiap hari paling banyak hanya 10 toples," terangnya.
Kala itu, Asmawati mengaku masih pemula. Dia hanya menjajakan kue-kuenya di sekitar Kecamatan Mayang. Cara penjualannya pun masih konvensional. Dari kenalan ke kenalan. Sebab, dia dan suaminya belum begitu familier dengan teknologi.
Mengetahui hasilnya hanya datar-datar saja, Asmawati beserta suaminya mulai mencoba peruntungan lain dengan cara membuat kue sendiri dan mulai merambah ke teknik pemasaran via daring. Ide itu mereka dapatkan dari kenalan ke kenalan yang menyarankan agar menambah strategi penjualannya.
Hasilnya lumayan. Perlahan tapi pasti, omzet penjualan mulai naik. Dari yang biasanya hanya laku 10 toples, hingga pernah mendapat pesanan 300 toples. "Penjualannya mulai menggunakan media sosial. Ternyata sangat ampuh. Banyak orderan masuk," ucap Asmawati, mengisahkan.
Masih di tahun 2020, dia juga mulai melayani penjualan daring, lalu dikirim dengan jasa pengiriman. Seiring meningkatnya penjualan itu, dia menyisihkan sebagian rezeki untuk mengembangkan usaha, menambah dana untuk membeli bahan dan peralatan. Dia juga mulai mengajak dan memperkerjakan empat orang ibu-ibu sekitar rumahnya untuk membantu usaha kue kacang tersebut.
Meski harganya terbilang murah, namun menurut dia, kue-kuenya itu kuat pada aroma semerbak wangi dan rasanya. Karenanya, walau tergolong jajanan tradisional, kue-kue warga di sana bisa terjual ke berbagai daerah.
Slamet Riyadi, suami Asmawati, mengungkapkan, selain dipasarkan di sekitar wilayah Jember, kue-kue warga, termasuk bikinan istrinya, diorder pelanggan dari sejumlah daerah. Baik dari Pulau Jawa maupun luar Jawa. "Alhamdulillah, kue bikinan istri sudah dipesan dari Banten, Jakarta, Surabaya. Bahkan di Bali dan NTT (Nusa Tenggara Timur, Red)," ungkapnya.
Reporter : Asmawati For Radar Jember
Fotografer : Maulana
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona