Sebenarnya, berbagai upaya mengurai angka pengangguran itu sudah ada. Pemprov Jawa Timur melalui Balai Latihan Kerja (BLK) di Jember, misalnya. Di sana, masyarakat yang kesulitan mencari kerja bisa dilatih kemampuannya sampai siap kerja.
Biasanya, bentuk pelatihan yang diberikan bermacam dan berkelanjutan. Dari awal mengikuti pelatihan hingga pascapelatihan. "Pascapelatihan itu, peserta tetap dipantau. Kami bantu mengoneksikan ke perusahaan atau pabrik yang membuka lowongan. Ini agar mereka terserap ke sana," terang Bachtiar S, Kepala Seksi (Kasi) Pengembangan dan Pemasaran BLK Jember.
Namun, selama ini para peserta lebih banyak yang terserap ke dunia kerja dibanding yang membuka usaha mandiri atau usaha sendiri. Namun, Bachtiar mengakui, proyeksi pelatihan di BLK itu sebenarnya mengutamakan peserta bisa membuat usaha sendiri daripada menjadi karyawan. "Memang tidak semua. Ada beberapa yang melakukan usaha mandiri. Sisanya banyak ikut bekerja di perusahaan atau pabrik," sambungnya.
Beberapa pelatihan wirausaha yang diberikan seperti batik tulis, salon, menjahit bordir, dan lainnya itu, diakuinya terus diminati. Bahkan jumlah pesertanya nyaris tak pernah sepi dalam tiap angkatan. Hanya saja, ia tidak menyebut berapa angkatan kerja yang merambah ke usaha mandiri ataupun terserap ke pabrik atau perusahaan. "Jumlah peserta pelatihan terus ada peningkatan. Tidak hanya saat pandemi. Sebelum pandemi juga sama. Meningkat," imbuhnya.
Saat disinggung mengenai kondisi dan angka pengangguran di Jember, ia belum mengetahui detail kondisinya. Bachtiar menegaskan, program pelatihan Pemprov Jatim di BLK Jember mulai menyiapkan beberapa paket pelatihan pada tahun 2021 ini. Di antaranya pelatihan dengan sokongan APBD meliputi institusional delapan paket, non-institusional 63 paket, dan PCMI satu paket.
Selain itu, kata dia, juga ada paket pelatihan dari APBN, secara institusional sebanyak 14 paket. "Tiap paket itu 16 orang. Jadi, diharapkan bisa memanfaatkan peluang ini untuk memenuhi kebutuhan angka kerja," harapnya.
Jika dikalkulasikan, total keseluruhan paket pelatihan Pemrov Jatim tahun 2021 ini bisa menjangkau sekitar 1.376 lebih pendaftar. Angka ini masih terlampau jauh dari angka pengangguran 67 ribu jiwa atau 5,2 persen dari jumlah penduduk di Jember tersebut.
Hal itu membuktikan bahwa angka pengangguran kerja ini sebenarnya tak cukup jika sekadar tertangani oleh program pelatihan pemerintah provinsi. Namun, juga harus didukung oleh pemerintah kabupaten. Apalagi jika yang berjalan hanya provinsi saja dan kabupaten tidak, maka sama saja angka pengangguran yang tinggi tidak akan mampu ditekan secara signifikan.
Sebenarnya, kondisi tenaga kerja dan angka pengangguran itu juga menjadi tugas Pemkab Jember melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jember. Namun, hingga kemarin (12/9), Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jember Bambang Edy Santoso masih enggan menanggapi upaya konfirmasi Jawa Pos Radar Jember. Baik melalui sambungan telepon maupun saat ditemui langsung di kantornya, Rabu siang (8/9) lalu. Kala itu, Bambang tidak ada di tempat.
Reporter : Maulana
Fotografer : Ilustrasi Radar Jember
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona