Walaupun jumlah koleksinya terus meningkat, namun hal ini tidak berpengaruh pada penambahan kunjungan. Dia berkata, dari dulu hingga sekarang pengunjung yang datang ke situs adalah pelajar dan mahasiswa. “Pelajar biasanya kalau ada penugasan. Sedangkan mahasiswa biasanya anak-anak sejarah, yang mata kuliah sejarah,” tuturnya.
Selain itu, ia menjelaskan, saat ini makin banyak mahasiswa yang magang di beberapa situs budaya BPCB lantaran terikat dengan program Merdeka Belajar. Selain itu, juga untuk melakukan riset yang ditugaskan oleh kampus.
Djoko menerangkan, banyak mahasiswa dan pelajar yang melakukan riset atau kajian pada beberapa peninggalan jenis batu. Mulai dari riwayat zamannya, lalu menarasikannya. Dia menilai, hal ini cukup bagus untuk membantu publikasi dari peninggalan artefak. Sehingga, narasi sejarah atas peninggalan-peninggalan artefak tetap terus terjaga.
Hal lain yang membuat situs ini sepi pengunjung adalah minimnya pengenalan di media sosial. Karenanya, banyak pengunjung yang tidak sepenuhnya tahu artefak atau peninggalan apa saja yang tersimpan di sana. Terlebih, beberapa peninggalan cagar budaya hasil hibah dari masyarakat tidak sepenuhnya dimasukkan ke dalam ruangan. Sebab, ada keterbatasan tempat yang disediakan.
Karena itu, muncul kesan situs ini tidak terawat. Padahal sebagian artefak yang tersimpan di sana cukup langka dan sarat dengan narasi sejarah tiga zaman yang masih kental. Djoko menambahkan, sesungguhnya situs ini perlu dilakukan perawatan yang lebih baik. Tujuannya agar benda-benda cagar budaya dapat tersimpan dengan baik dan rapi.
Jurnalis: Dian Cahyani
Fotografer: Dian Cahyani
Editor: Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal