Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Alasan ini yang Buat Ortu Mulai Pindahkan Anak ke Pesantren

Ivona • Kamis, 2 September 2021 | 21:58 WIB
MENUNGGU: Diana Holida (kanan) tengah mengurus surat perpindahan anaknya. Karena menunggu pertemuan tatap muka (PTM) yang tak kunjung berlangsung, sejumlah orang tua memindahkan anaknya ke pondok pesantren.
MENUNGGU: Diana Holida (kanan) tengah mengurus surat perpindahan anaknya. Karena menunggu pertemuan tatap muka (PTM) yang tak kunjung berlangsung, sejumlah orang tua memindahkan anaknya ke pondok pesantren.
MUMBULSARI, RADARJEMBER.ID – Pandemi yang tak kunjung usai membuat banyak wali murid memilih untuk memindahkan anaknya ke pesantren. Sebab, mereka menginginkan anaknya untuk cepat melakukan pertemuan tatap muka (PTM) di sekolah. Satuan lembaga yang telah melakukan tatap muka adalah pesantren.

Sebelumnya, tren siswa sekolah pindah ke pesantren telah lumrah terjadi di pelosok desa. Di antaranya terjadi di kawasan Ledokombo. Namun, saat ini tren perpindahan siswa juga marak terjadi di kawasan Bangsalsari. Salah satunya terjadi di SMP Negeri 1 Mumbulsari. Salah satunya terjadi pada M Irwan Ramadhani.

Siswa kelas VII itu terpaksa harus pindah sekolah atas permintaan ibunya, Diana Holidah. Menurut Holidah, anaknya sering berpergian ke gunung paralayang di Desa Suco, bersama teman-temannya. "Biasanya bonceng bertiga bersama temannya. Pakai sepeda motor balapan juga. Ke gunung paralayang di Desa Suco," Ungkapnya.

Holidah sudah mengirimkan anaknya ke pesantren sejak dua bulan lalu. Namun, baru hari ini dia meminta surat pindah. Hal ini karena dia menganggap sekolah libur selama pandemi. “Padahal secara operasional sekolah tidak libur. Sehingga proses perpindahannya pun baru diurus,” lanjutnya.

Terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jember Muhammad mengungkapkan bahwa siswa atau santri yang menetap di pondok pesantren umumnya telah melakukan vaksinasi yang diselenggarakan oleh satuan yayasan pendidikan. Selain itu, mereka tidak berbaur dengan kalangan luar, kecuali guru. Sehingga aman dalam melakukan PTM.

Teknisnya, durasi waktu PTM pun dikurangi. Umumnya, mereka hanya melakukan pembelajaran tatap muka selama empat jam. Wali murid juga sangat dibatasi dalam melakukan kunjungan. Bahkan, beberapa pesantren menerapkan aturan larangan menjenguk santri di pesantren. "Kalau anak-anak pondok bisanya vaksinasi diselenggarakan oleh pesantrennya," kata Muhammad.

Kendati demikian, dia mengimbau untuk tetap waspada dan tetap menjaga prokes. Selain itu, kondisi kesehatan siswa atau santri tetap menjadi hal yang utama dalam segala hal.

Reporter : Dian Cahyani dan Juma’i

Fotografer : Juma’i

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Ivona