Fariz yang memiliki lahan 1,5 hektare ini mengaku, setiap panen yang dia peroleh bisa mencapai lima ton kopi. "Kalau di daerah Panti sekarang kopi itu melimpah. Tapi, harganya turun. Banyak kopi punya warga yang laku murah. Punya saya yang gelondong cuma Rp 5.000 per kilo," Jelasnya.
Ia menjelaskan, kondisi panen yang menguntungkan petani terjadi tahun lalu. Tahun kemarin, kata Faiz, stok kopi kurang, sehingga permintaan gudang atau pabrikan sangat banyak. Kini, hanya beberapa gudang yang mau menerima kopi rakyat. Peluang kopi rakyat semakin tertutup karena ada beberapa gudang yang menjalin kemitraan, sehingga kebutuhan gudang cukup dipasok oleh petani mitra. "Yang ditakuti adalah pihak gudang. Kalau gudang tutup semua kayak dua bulan lalu. Gudang sempat tutup semua. Lah, kami yang di bawah kelabakan. Panen banyak. Permintaan tidak ada," ungkapnya.
Berdasarkan pengalamannya, Faiz juga pernah mengalami kerugian. Saat itu, kopi miliknya hanya ditawar dengan harga Rp 18 ribu per kilogram. Menurutnya, ketika harga kopi hanya memiliki nilai tawar di bawah Rp 20 ribu, maka hal itu merupakan sinyal bahwa petani akan gulung tikar.
Selain itu, menurutnya, akses permodalan petani kopi yang telah diakomodasi oleh pemerintah belum berjalan optimal. Salah satu akses permodalan yang didapat petani kopi adalah kerja sama yang telah dibangun oleh pemerintah kabupaten dengan bank daerah. "Petani itu ada modal pinjaman dari bank. Kami kerja sama dengan bank untuk para petani. Karena biaya operasional kopi itu banyak," ungkapnya lagi.
Sama dengan sebelumnya, problem klasik yang dihadapi petani adalah sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi. Masalah ini menjadi hambatan terberat bagi petani kopi di Kecamatan Panti. Padahal pertanian kopi membutuhkan pemupukan yang cukup agar hasil panen maksimal. Sementara itu, menggunakan pupuk nonsubsidi, tentu saja biaya produksinya akan membengkak dan memberatkan.
Fariz berharap, nantinya pemerintah dapat menjamin stabilitas harga. Bahkan, membikin terobosan agar kopi robusta yang dihasilkan menjadi brand unggul di Jawa Timur. "Robusta Jember tidak kalah dengan kopi Ijen. Seharusnya branding kita sudah bisa se-Jawa timur. Saya berharap pada pemerintahan baru ini, makin mengangkat potensi robusta Jember," tandasnya.
Reporter : Dian Cahyani dan Delfi Nihayah
Fotografer : Delfi Nihayah
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona