Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jelang Idul Adha Waspadai Sapi Gelonggongan, Jangan Terkecoh Tubuh Gemuk

Safitri • Minggu, 18 Juli 2021 | 23:00 WIB
JELI MEMILIH: Biasanya, jelang Idul Adha ada saja pedagang yang berlaku curang dengan menggelonggong sapi. Konsumen pun diharapkan hati-hati ketika membeli hewan kurban. Jangan sampai terkecoh hanya karena tubuh sapi gemuk.
JELI MEMILIH: Biasanya, jelang Idul Adha ada saja pedagang yang berlaku curang dengan menggelonggong sapi. Konsumen pun diharapkan hati-hati ketika membeli hewan kurban. Jangan sampai terkecoh hanya karena tubuh sapi gemuk.
KALIWATES.RADARJEMBER.ID - Biasanya sapi gemuk menjadi bidikan orang untuk menjadi hewan kurban. Tentu saja harganya lebih mahal. Namun, pembeli diharapkan tidak terkecoh dengan kondisi fisik sapi yang tambun saja, karena sapi gemuk juga berpotensi hasil gelonggongan.

Praktik menggelonggong biasanya dilakukan oleh pedagang curang dengan cara meminumi air menggunakan selang melebihi batas kewajaran. Sapi hasil gelonggongan akan kembung dan badannya membesar seolah gemuk alami.

“Ketika ditawari pedagang sapi gemuk maka pembeli jangan mudah tergiur. Siapa tahu sebelum dijual sapi itu digelonggong terlebih dahulu,” ungkap Purwoto, Pengelola Rumah Potong Hewan (RPH) Kaliwates.

Menurutnya, cara tersebut kerap dilakukan penjual hewan kurban yang curang terutama saat Idul Adha untuk mengejar keuntungan instan. Pria kelahiran Jawa Tengah itu mengaku prihatin karena di lapangan masih juga ditemukan praktik sapi gelonggongan dan hal itu sangat merugikan konsumen.

Walau sapi itu telah digelonggong oleh pedagang, namun daging sapi tersebut tetap bisa dikonsumsi. Namun demikian, daging itu tidak bisa disimpan di kulkas dalam kurun waktu lama, karena kadar air dalam daging itu terlalu tinggi, sehingga cepat rusak. Untuk itu, Purwoto mengimbau, bila warga Jember ingin berkurban jangan sampai salah memilih sapi gelonggongan.

Mujirin, pegawai lain di RPH Kaliwates memaparkan, sapi hasil penggemukan paksa tersebut bisa dibedakan dari sapi biasa. Sering kencing merupakan perilaku sapi gelonggongan karena tubuh penuh air. Selain itu raut muka sapi terlihat lesu alias kurang sehat. Gerakan sapi kurang lincah dan terkesan lamban, akibat beban tubuh sapi berlebihan.

“Ketika sapi gelonggongan ini disembelih dan dikuliti, air belum nampak keluar dari dalam tubuh. Ketika dipotong dan daging dipisahkan dari tulang, maka terlihat jelas tetesan air keluar. Dari situlah baru diketahui kalau hewan itu sengaja digelonggong untuk mendapatkan keuntungan besar,” ungkapnya. (*)

Reporter: Winardyasto
Fotografer: Winardyasto
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri
#Idul Adha