Kepada Jawa Pos Radar Jember, Nur Jannah bercerita panjang tentang almarhum suaminya. Di usianya yang setengah abad, dia mengungkapkan, mendiang Ali Rosyadi masih gigih mengkhatamkan studi S-2. Semangat belajarnya tinggi. Tidak memandang umur. Semangat belajar ini ia tularkan kepada anak dan istrinya. Sejak dini, anak-anak mendiang Ali Rosyadi diajarkan untuk selalu memiliki semangat belajar yang besar.
Bagi Ali Rosyadi Al-Hafid, pendidikan bukan melulu untuk kepentingan pekerjaan. Apalagi sekadar mendapat ijazah. Lebih dari itu, Ali Rosyadi punya prinsip bahwa menempuh pendidikan adalah hal yang wajib dijalani oleh setiap umat manusia. Bahkan hukumnya wajib.
Semasa hidupnya, Ali Rosyadi berupaya untuk memenuhi segala tuntutan biaya pendidikan anak-anaknya secara maksimal. Tak heran jika kepergiannya menimbulkan lara mendalam untuk orang-orang di dekatnya. Apalagi keluarganya. Almarhum tinggal bersama keluarganya di Dusun Sulakdoro, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan.
Istri Ali Rosyadi, Siti Nur Jannah menuturkan, menjelang kematian, mendiang suaminya tidak memberikan tanda-tanda sakit atau keanehan. Dia wafat ketika memimpin jamaah pengajian Toriqoh. Pengajian tersebut diikuti oleh 60 orang. "Waktu itu, Pak Ali juga menjadi penceramah," ungkap Nur Jannah.
Namun, ketika mengucapkan kalimat tahlil tiga kali, Ali Rosyadi diam menunduk. Memejamkan mata. Mikrofon pun langsung terjatuh. Setelah direbahkan, ternyata dia telah meninggal. "Begitu mudahnya Pak Ali meninggal," sambungnya.
Hingga saat ini, keluarga masih terpukul dengan peristiwa itu. Untuk mengenang kepergian Ali Rosyadi, sang istri membuat sebuah syair. Sejatinya, syair ini diubah dari lagu yang dibawakan Rhoma Irama. Pendek kata, Siti Nur Jannah tengah mengaransemen ulang lagu dan mengubah lirik lagu milik Rhoma Irama yang berjudul Kehilangan. "Ini merupakan wujud takdim saya ke Pak Ali, sekaligus mengenang dan memberikan sejarah untuk anak cucu," papar Nur Jannah.
Dalam menyusun lirik, Nur Jannah banyak mengambil sisi lain kehidupan suaminya, yang tak lain adalah guru madrasah ibtidaiyah (MI). Susunan lirik dari lagu tersebut ia buat sembari mengenang almarhum. "Ketika saya merenung, saya tuliskan semua kegelisahan saya di dalam lirik tersebut. Dan rasa terima kasih saya," ucapnya.
Ia berharap, kelak karyanya bisa didengar dan diperkenalkan kepada anak cucunya. Sehingga kisah suaminya ini bisa menginspirasi keturunannya. Ia juga berharap, melalui lagu yang liriknya ia ubah, dapat memotivasi anak-anak muda untuk disiplin dalam menuntut ilmu. Editor : Safitri