Pabrik ini berdiri sejak masa kolonial Belanda. Tepatnya 1915. Saat itu bisa dibilang belum ada penduduk Jember yang memiliki lemari es. Pabrik inilah yang memproduksi es besar-besaran. Bentuknya balok. Dikirim ke berbagai pelosok dengan sekam padi.
Sampai saat ini, Pabrik Es Telengsari tetap beroperasi. Namun, kebanyakan pesanan es balok datang dari tempat penjualan ikan segar. Difungsikan untuk membekukan ikan-ikan nelayan.
Saat ini, Pabrik Es Telengsari dikelola PT Moya Kasri Wira Jatim. Produksinya tetap es balok. Sebenarnya, es produksi Telengsari tetap bisa untuk pendingin minuman. Namun, pemesannya banyak dari kalangan penjual ikan segar. “Sejak dulu sampai sekarang, air yang dipakai untuk membuat es diambil dari sumur. Saat ini, penggunaannya memang banyak untuk pengawet ikan. Tetapi tetap bisa untuk minuman,” kata Sri Hartini, Pjs Manager Pabrik Es Telengsari.
Uniknya, lemari es tempat pembekuan berbentuk seperti bunker. Dalam sekali produksi, bisa menghasilkan 672 balok es. Lokasi pembuatan ada dua, tetapi hanya satu yang difungsikan. Hal itu tidak lain terjadi karena permintaan sudah tidak lagi seperti era sebelum ada kulkas. “Kalau sekarang, pengiriman ke Situbondo, Muncar Banyuwangi, Puger, dan beberapa tempat lain. Di kota-kota juga tetap ada,” beber Sri.
Sementara itu, Sutomo, mekanik pabrik, mengatakan, setiap harinya setelah dilakukan bongkar muat es balok untuk dikirim kepada pemesan, maka balok-balok es akan diisi lagi dengan air yang bersih. Balok-balok tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam bunker untuk dibekukan. “Setidaknya pembekuan es dilakukan sekitar 24 jam,” bebernya.
Rutinitas pembuatan es Telengsari yang demikian ini sudah eksis sangat lama. Yaitu setelah perusahaan berdiri tahun 1915 silam sampai di era modern sekarang ini. Pabrik es yang berdiri di atas lahan 6.015 meter persegi itu akan terus berproduksi hingga batas waktu yang tidak ditentukan. (nur/jum/c2/hud)
Editor : Radar Digital