Sibun, salah seorang pedagang besi bekas di pasar tersebut, mengungkapkan, sebelum pandemi mereka bisa mendapatkan pendapatan hingga Rp 1 juta per hari. Namun kini, lanjut warga di Jalan Kenanga Gang VIII Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, itu pendapatan mereka menurun drastis. “Saat ini, dapat seratus ribu saja sudah alhamdulillah,” ungkap warga yang berusia 61 tahun tersebut.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Jember, banyak pertokoan yang tutup. “Iya, soalnya memang benar-benar sepi,” ujar penjual besi tua lain bernama Suparto. Warga Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, itu menambahkan bahwa banyak pedagang yang memilih untuk banting setir dan fokus pada pekerjaan lain. “Kalau ndak begitu, mau makan pakai apa,” terangnya.
Meski begitu, kondisi ini jauh lebih baik daripada awal pandemi dulu. Reza, pedagang lain, menyatakan bahwa pihaknya hanya diperbolehkan berdagang sampai pukul 13.00 saja saat itu. “Sampai parahnya, sehari pernah tidak dapat apa-apa,” ujar pria berusia 28 tahun itu.
“Bayangkan, ngopi, makan, rokok, harus ngutang dan baru bisa dibayar seminggu sekali. Bahkan, bayar karcis saja tak becus,” tegasnya. Meski begitu, Reza mengungkapkan bahwa pihaknya bakal istiqamah dalam menjajakan barang dagangannya. “Meski banyak yang gulung tikar, kami bakal bertahan. Kalau begini kan saingannya tambah sedikit,” candanya.
Lebih lanjut, Reza menegaskan bahwa sebenarnya pihaknya sudah berupaya dalam menerapkan protokol kesehatan. Namun, memang tak ada yang berani berkunjung kemari. “Jadi, tak ada yang bisa kami lakukan selain menanti pengunjung datang, meski pendapatan jauh dari harapan,” tuturnya.
Dirinya juga berharap pandemi segera berakhir. “Lebih baik lagi jika masyarakat Jember mau saling bahu-membahu dengan berkunjung kemari. Dengan begitu, bisa meningkatkan perekonomian kami,” tandasnya. Editor : Safitri