Dian Cahyani, Ambulu, Radar Jember
Wajah Salman menatap langit-langit serambi Masjid Jamik Ambulu. Dia berusaha mengingat-ingat kembali kapan persisnya mulai menyukai puisi. Salman mengernyit. Kerutan-kerutan di dahinya tampak bertemu antara satu dengan yang lain. “Sejak SMP, saya sudah suka puisi,” katanya, memecah kebekuan siang itu.
Kepada Jawa Pos Radar Jember, ia mengaku, saat itu dirinya mulai giat mengirim karya ke mading sekolah. Namun, hobinya dalam menikmati sastra tak banyak orang tahu dan memperhatikan. Padahal, semasa sekolah ia rajin menulis bait-bait puisi dan beberapa cerita pendek (cerpen). Karya itu hanya dinikmatinya sendiri. Kecuali, jika karyanya diterima untuk diterbitkan dalam mading sekolah.
Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Kalimat ini cocok disematkan pada Salman. Sebab, sejak SD, dia sudah gemar membaca. Langganan buku yang dibacanya adalah kumpulan cerpen dan novel. Dari sini, Salman punya banyak perbendaharaan kata untuk menyusun diksi yang baik.
Selain bersastra dalam tulisan, Salman juga memberanikan diri dengan mulai berkecimpung dalam sastra teater. Dia masuk di kegiatan ekstrakurikuler sekolah sejak bangku SMP hingga kini. Bagi Salman, memasuki seni teater merupakan proses belajar hidup yang sesungguhnya. Sebab, di ruang teater dirinya dihadapkan oleh banyak watak dan dituntut bisa menyesuaikan diri.
Sama halnya dengan kehidupan, Salman merasa, manusia akan dihadapkan dengan berbagai watak manusia lain dan dituntut untuk bisa berdamai dengan keadaan. Inilah pelajaran nomor wahid yang Salman petik dari seni teater. “Jadi, bagiku seni teater ini refleksi bersosial secara nyata di masyarakat,” ujar pria yang tinggal di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Ambulu, tersebut.
Sederet pementasan pun telah ia lakoni. Mulai dari pementasan skala lokal hingga luar daerah. Peranannya dalam seni teater selalu menempatkan salam menjadi seorang laki-laki dewasa. Misalnya, pernah menjadi bapak-bapak, kakek-kakek, dan tuan tanah tua. “Ini sudah langganan. Jadi, ya memang begitu kalau main teater,” katanya.
Tak surut sampai di situ, pada 2018 lalu Salman bergabung dalam Komunitas Litera. Sebuah komunitas besutan mahasiswa Universitas Jember (Unej) yang fokus mengembangkan literasi melalui dongeng. Di sini Salman juga punya andil banyak. Selama kegiatan rutinan, dia terbilang menjadi anggota yang aktif. Mengenalkan dongeng kepada para generasi yang lebih muda darinya. “Kalau dongeng kan harus ekspresif. Ini cara yang disukai anak-anak. Jadi, ya ngajarin anak-anak juga,” papar lulusan Universitas Muhammadiyah Jember itu.
Namun, di balik perjuangan Salman menghidupkan literasi sastrawi, ternyata ada kisah pahit yang pernah dialaminya. Yaitu, ketika dirinya tidak mendapatkan izin dari orang tuanya untuk melanjutkan kegiatan literasinya tersebut. Baik di seni teater, dongeng, maupun pentas seni puisi. Larangan ini sudah dimaklumkatkan sejak Salman di bangku kelas XII SMA. Berlanjut pada jenjang awal kuliah.
Orang tua Salman menganggap, kegiatan komunitasnya itu tidak memberi manfaat pada proses akademiknya. Alih-alih berprestasi, kegiatan tersebut justru hanya membuat nilai akademiknya anjlok. Bentuk pelarangan mengikuti kegiatan komunitas literasi itu dinampakkan pada seringnya orang tua Salman memberikan nasihat dan melarang secara halus melalui ucapan.
Namun, Salman bergeming. Dia tetap konsisten dengan apa yang dipilihnya. Ia tidak sekali pun libur dan berhenti menghadiri atau tampil dalam acara komunitas sastranya. Hingga akhirnya, orang tuanya luluh dan mengizinkan Salman melanjutkan apa yang ia tekuni. “Saat ini, orang tua mendukung semua kegiatanku,” ucapnya.
Kini, Salman sedang menggarap sebuah puisi terbarunya. Puisi ini nantinya ditargetkan menjadi sebuah karya buku. Puisi yang sedang digarapnya ini diangkat berdasarkan pengalaman pribadinya. “Bahwa sesungguhnya manusia diciptakan oleh Tuhan, lemah asalnya. Lalu, bagaimana sikap kita mengubah kelemahan tersebut menjadi kekuatan,” pungkasnya.
Foto: SALMAN AL FARIS Editor : Safitri