Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bikin Jingle Song of Corona, Dua Jam Rampung Tanpa Revisi

Safitri • Selasa, 13 Oktober 2020 | 21:36 WIB
KELEBIHAN: Cak Oyong memilih pakaian bekas dari donasi warga ke korban banjir Gladak Kembar. Pakaian ini nantinya bakal dikelola oleh Bank Klambi Sobung Sarka.
KELEBIHAN: Cak Oyong memilih pakaian bekas dari donasi warga ke korban banjir Gladak Kembar. Pakaian ini nantinya bakal dikelola oleh Bank Klambi Sobung Sarka.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Ini bukan soal ketenaran atau eksistensi, tapi tentang rasa dan curahan hati. Begitulah keyakinan Budi Hoo di tiap lirik lagunya. Sang musisi kawakan asli Jember ini mencoba menuangkan kegelisahan batinnya melalui lagu bertema pandemi. Apa yang melatarbelakanginya?

MAULANA, Jember Kidul, Radar Jember

Tepat menjelang azan Asar, sejumlah anak-anak mulai berkemas. Pertanda pengajaran hari itu sudah cukup. “Belajar yang rajin. Baik-baik kepada keluarga, guru, dan temanmu,” ucap Budi Hoo, berpesan ke anak didiknya. Saat mereka beranjak pulang, Budi Hoo memandangi langkah anak didiknya itu hingga mereka hilang melintas di tikungan.

Budi Hoo mengaku, sejak pandemi melanda negeri ini, hatinya sudah gelisah tak karuan. Rasanya campur aduk melihat ketimpangan sosial belakangan ini. Tepatnya saat Covid-19 muncul pertengahan Maret lalu.

Pandemi ini pula yang menggugah kesadaran ayah satu anak itu menciptakan lagu. Tepatnya pertengahan April lalu, Budi Hoo kembali mencurahkan isi batinnya melalui lirik. Kali ini judulnya ‘Song of Corona’ yang dibawakan oleh Salsabila Kanza, remaja kelahiran Jember yang kini menempuh pendidikan di sekolah musik Yogyakarta. “Hanya butuh dua jam, lagu itu saya rampungkan tanpa revisi,” ungkapnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya, Lingkungan Talangsari, Jember Kidul, Kaliwates, kemarin (12/10).

Baginya, urusan bikin lagu perlu didasari dari hati dan perenungan panjang. Dengan demikian, setiap lirik yang dihasilkan memiliki makna atau pesan yang ingin disampaikan. Jika lagu sekadar lagu, Budi Hoo yakin, mungkin hanya dihargai tepuk tangan atau paling banter dibanderol rupiah. Namun, untuk lagu yang mampu menyampaikan pesan, menggetarkan hati dan batin para pendengar, itu tak bisa dihargai dengan apa pun. “Contohnya lagu Ibu Pertiwi Menangis. Siapa pun mendengar pasti terenyuh. Pertanda batin kita terketuk,” katanya.

Begitu pun dengan jingle Song of Corona yang ia ciptakan. Musisi yang sudah bikin lagu sejak era 70-an itu menuturkan, sebenarnya pandemi itu berbahaya. Namun, justru yang lebih berbahaya adalah dampak yang dimunculkan. Ia seolah khawatir dengan kesenjangan sosial yang akan muncul, keterpurukan ekonomi, dan lain-lain. Seperti dalam salah satu lirik lagu itu: the world begin to change right now, full of the anxiety (dunia mulai berubah sekarang, penuh dengan kegelisahan).

Apa yang dikhawatirkan itu benar-benar terjadi saat ini. Budi Hoo melalui lagu itu pula, ingin mengubah bagaimana cara pandang orang terhadap kondisi pandemi. “Setiap musibah atau tragedi, bagaimana orang itu tetap berempati, mencintai orang lain. Jangan sampai keegoisan itu muncul dan menghilangkan kecintaan kita,” ujarnya.

Di rumahnya, Lingkungan Talangsari, Jember Kidul, ruang musik seukuran sekitar 3x4 meter menjadi saksi ratusan lagu dan syair sang maestro 59 tahun itu. Tak banyak isi di dalamnya, hanya sebuah piano, dua gitar Spanyol, dan alat mixing suara.

Saat Jawa Pos Radar Jember mengunjungi rumah Budi Hoo, ia juga menceritakan, bagaimana seyogyanya sebuah lagu itu, dan apa pentingnya dengan kondisi masyarakat saat ini. “Lagu itu soal isi jiwa dan rasa. Dan hakikat menyanyi adalah menyampaikan isi lagu dan rasa itu. Kalau niatnya salah, tentu tak ada pesan yang bisa disampaikan ke pendengar,” katanya.

Begitu dalamnya filosofi sebuah lagu dari sang musisi kawakan itu membuat Budi Hoo cukup produktif hingga hari ini.  Bahkan sederet nama-nama artis ternama Jember pernah dibesut dari tangan dinginnya. Sebenarnya, selain jingle Song Of Corona itu, secara bersamaan Budi Hoo juga membuat lagu berjudul Merah Putih.

Lagu yang mengisahkan kondisi rezim saat ini yang tidak karuan, demo terus, ia mencoba menuangkan harapan untuk dirinya sendiri dan masyarakat banyak, bahwa cukuplah zaman sekarang kondisi yang serba sulit ini. Nanti, jika giliran anak cucu kita, biarkan mereka yang akan memoles zamannya lebih baik.

“Tiap karya memang layak mendapat apresiasi, tapi tak harus semua berbentuk materi. Ada kalanya sebuah lagu yang paling bermakna, bisa menggetarkan hati dan mengoyak jiwa. Dan ada pesan yang disampaikan dalam lirik lagu itu,” pungkasnya. Editor : Safitri
#Covid-19 #Jember