Tahun-tahun sebelumnya, Pak Indah bercerita, bila musim tembakau seperti sekarang ini, hampir semua buruh tani di kampungnya bekerja. Bahkan, ibu rumah tangga juga mendapatkan penghasilan tambahan karena tembakau. Sebab, tanaman ini memang menyerap cukup banyak tenaga kerja. Mulai dari penanaman, perawatan, masa panen, hingga pengolahan pascapanen.
Tapi sekarang, dia mengungkapkan, kondisinya jauh berbeda. Harga jual tembakau murah, berkisar antara Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan tahun kemarin bisa mencapai lebih dari Rp 50 ribu per kilogram. Hal ini juga berdampak terhadap penyerapan buruh tani yang biasanya bekerja di sektor tembakau. Petani tembakau disebut banyak yang merugi. “Saat ini bisa bekerja saja sudah bersyukur. Karena harga tembakau murah, tidak seperti tahun kemarin,” tuturnya.
Hendro Handoko, petani tembakau di Ledokombo, juga hanya bisa geleng-geleng melihat kondisi tembakau saat ini. Bahkan, kata dia, keadaannya lebih parah dari dampak erupsi Gunung Raung 2015 lalu. Kala itu, harga jual tembakau krosok atau voor oogst kasturi juga anjlok. Tapi kini, disebutnya paling merana.
Hendro yang aktif sebagai Ketua Aliansi Petani Tembakau Jember tersebut menuturkan, sekarang ini pabrikan atau gudang hanya mau membeli daun tembakau bagian bawah, yang kualitasnya sangat rendah. Sementara bagian tengah yang kualitasnya lebih bagus, justru terserap sangat sedikit. “Kalau begini terus, daun tembakau atas mau dikemanakan?” tuturnya.
Kondisi ini di luar prediksi petani. Apalagi, petani tembakau kasturi sangat berharap dengan tembakau bagian tengah sampai atas. Sebab, tembakau bagian tengah sampai ke atas kualitasnya bagus dan harganya lebih tinggi.
Menurutnya, hampir seluruh pabrikan dan gudang menerapkan kebijakan serupa. Mereka hanya membeli tembakau petani yang berkualitas rendah. Bahkan, petani yang bermitra kondisinya tak jauh berbeda. Daun bawah dihargai Rp 7.500 - 18.000 per kilogram. Sementara harga daun bagian tengah di kisaran Rp 20 - 25 ribu per kilogram. Sedangkan daun atas masih belum dihargai. “Tahun kemarin, daun bawah saja dihargai Rp 25 ribu per kilogram,” jelasnya.
Menurutnya, tidak semua pabrikan dan gudang selalu buka dan membeli tembakau petani. Tahun-tahun sebelumnya, di akhir Agustus. Meski begitu, jika pabrikan dan gudang sudah buka, biasanya mereka akan membeli tembakau petani hingga masa panen selesai. Tapi sekarang, kalaupun ada yang buka, hanya dua hari saja. “Selanjutnya kembali tutup,” ungkapnya.
Pria yang juga Wakil Ketua Asosiasi Petani Tembakau ini mengaku tidak tahu apa yang menjadi alasan perusahaan hanya membeli daun bagian bawah. Bila berdalih lantaran korona, dia menilai alasan itu tidak logis. “Rokok itu jadi kebutuhan bagi perokok. Mereka akan tetap merokok, walau pandemi. Jika penurunan penjualan, maka tidak akan begitu drop. Tapi anehnya, kok tembakau bagian bawah yang dibeli,” jelasnya.
Menurutnya, derita petani sekarang tidak hanya yang menanam hortikultura, tapi juga petani tembakau. Bila pemerintah hanya diam, dia memastikan, maka pertanian Jember terancam hancur. Sebab, tembakau menjadi salah satu andalan. Apalagi, Jember sudah dikenal sebagai Kota Tembakau yang ditandai dengan penyematan daun emas itu pada logo daerah. “Harga tebasan saja per batang hanya Rp 800. Harga segitu sudah di luar nalar,” paparnya.
Merugi Rp 20-30 Juta
Badan Pusat Statistik (BPS) Jember mencatat, total luas areal tanaman tembakau di Jember pada 2019 mencapai 12.279 hektaree. Dari jumlah tersebut, tertinggi adalah tembakau kasturi yang mencapai 10,4 hektare. Kondisi demikian, tentu saja membuat komoditas krosok paling banyak menyedot petani hingga buruh tani.
“Kalau musim tembakau seperti ini, di daerah Jember utara dan timur, hampir semua buruh tani bahkan ibu rumah tangga dapat penghasilan karena tembakau,” terang Hendro. Budi daya tanaman tembakau memang banyak menyedot tenaga kerja.
Dia menjelaskan, untuk lahan per hektare tenaga kerja bagian tanam setidaknya butuh 20-30 orang. Itu belum tenaga kerja yang merawat setiap hari, mencangkul, hingga memanen. Belum lagi pengolahan pascapanen, juga membutuhkan tenaga kerja dengan jumlah yang cukup besar. Jika dikalkulasi, lahan satu hektare tembakau kasturi hulu hingga hilir, tenaga kerja yang diserap setidaknya 80-100 orang. “Kalau pascapanen seperti sujen, menjemur, hingga packing, semua menyerap tenaga kerja. Jadi, memang padat karya,” tuturnya.
Tingginya kebutuhan tenaga kerja berdampak terhadap biaya yang dikeluarkan. Hendro menghitung, biaya tanam tembakau kasturi, setidaknya Rp 50 juta kalau lahan sewa. Biaya itu bisa membengkak jika pupuk yang digunakan adalah nonsubsidi. Sebab, kebutuhannya mencapai 1,5 ton per hektare.
Berdasarkan perhitungan itu, Hendro menambahkan, petani bisa untung jika harga tembakau di tingkat petani minimal Rp 40 ribu per kilogram. Sebab, rata-rata hasil tembakau kasturi per hektare mencapai 1,3–1,5 ton. Jika harga segitu, setidaknya petani untung Rp 10–20 juta. Tapi, kalau saat ini dengan harga kasturi Rp 7.500 per kilogram, maka petani krosok terancam merugi Rp 20–30 juta per hektare.
Abdul Holip, mantan pedagang pengepul tembakau krosok, mengakui, jadi petani itu serba tidak enak. “Ada risiko ruginya. Karena harga saat panen tidak pasti. Lebih enak jadi pedagang,” tutur pedagang yang telah berhenti sejak lima tahun lalu ini.
Dia mengatakan, keuntungan yang dia dapat per kuintal waktu itu Rp 300 ribu. Artinya, per ton bisa untung Rp 3 juta. “Tinggal lihat di gudang harganya berapa. Terus keliling ke desa-desa mencari tembakau. Banyak petani yang nggak mau repot jual ke gudang,” katanya.
Sementara itu, BPS Jatim merilis Analisis Data Tembakau Jatim 2018. Dalam data itu tercatat, produksi tembakau Jember urutan kedua setelah Pamekasan. Bahkan, tembakau merupakan salah satu komoditas perkebunan yang punya peran strategis dalam ekonomi nasional. Mulai dari sumber pendapatan negara melalui devisa negara, cukai, pajak, serta sumber pendapatan petani, juga berperan menciptakan lapangan kerja. Editor : Safitri