Psikolog yang akrab disapa Icha itu menuturkan, selain faktor fisik, produksi ASI itu juga dipengaruhi pikiran atau psikologis ibu. Sehingga, perlu diperhatikan bagaimana menciptakan suasana hati ibu yang nyaman, aman, dan menyenangkan. Sebab, perempuan setelah melahirkan rentan terkena gangguan suasana hati. Istilahnya adalah baby blues, yaitu gangguan suasana hati yang dialami ibu setelah melahirkan.
“Tidak semua ibu mengalami baby blues. Tapi 50-80 persen ibu melahirkan diperkirakan berpotensi mengalaminya. Apalagi ibu yang baru melahirkan anak pertama,” terangnya. Kendati begitu, dia menambahkan, baby blues juga tidak menutup kemungkinan terjadi pada ibu dengan kelahiran anak kedua, ketiga, dan seterusnya.
Mengapa ibu baru melahirkan rentan terjadi gangguan suasana hati? Pertama, karena adanya perubahan hormon. Perubahan hormon itu, kata dia, menyebabkan perubahan kimia otak dan memicu perubahan suasa hati atau mood swing. Selain itu, juga adanya kesulitan beradaptasi setelah melahirkan. “Perubahan tanggung jawab, ketidakpahaman anggota keluarga yang lain, juga menyebabkan ibu kewalahan mengurus segalanya sendiri. Bahkan kebutuhan si kecil,” jelasnya.
Apalagi, ibu juga kurang istirahat karena siklus tidur bayi masih belum teratur. Karena itu, ibu kadang-kadang begadang dan bangun tengah malam untuk memberikan ASI kepada anaknya. Faktor keluarga, Icha memaparkan, juga menentukan untuk mengatasi dan menghindari ibu mengalami baby blues. Dukungan keluarga untuk membantu ibu dalam merawat bayi juga perlu. “Keluarga ya menawarkan bantuan. Saat bayi tidur, ibu juga ikut tidur. Terkadang saat bayi tidur, ibu itu beres-beres dan lainnya jika tidak diingatkan,” paparnya.
Selain itu, keluarga juga menjadi tempat curhat dan cerita ibu yang baik. Artinya, cukup jadi pendengar yang baik saja, tidak terlalu menasehati, atau menyalahkan ibu. Terkadang, ibu juga sensitif terhadap keluarga yang menjenguk setelah melahirkan. “Maksudnya baik untuk memberikan saran dan lainnya. Tapi kadang ibu menangkapnya berbeda. Sehingga alangkah baiknya, keluarga membatasi penjenguk bayi agar bisa istirahat dan tidak kelelahan. Sebab, faktor kelelahan, kurang tidur, juga bisa menjadi pemicu baby blues,” ungkapnya.
Menurut Marisa, ada pula faktor orang tua dari ibu itu yang menanggapi berlebihan tentang ASI yang kurang ataupun tidak keluar. Sehingga, membuat ibu kian stres. Ada juga ibu kepikiran saat pompa ASI, tapi hasilnya tidak banyak seperti temannya. Dia menegaskan, ASI memang masih yang terbaik, tetapi kasih sayang ibu itu tetap mengalir walau tidak berupa ASI.
“Jika selalu ditegur ASI kurang dan lainnya, perempuan akan merasa dirinya kurang sempurna sebagai seorang ibu. Hal yang harus dipahami tidak semua orang sama. Jadi, ibu juga harus pasrah dan bersyukur dengan produksi ASI-nya,” tuturnya.
Ciri-ciri baby blues, kata dia, adalah menangis tanpa alasan, mudah kesal, cepat lelah, dan susah tidur. Baby blues itu setidaknya terjadi 3-4 hari setelah melahirkan, hingga dua minggu. “Jika lebih dari dua minggu tidak baby blues lagi, tetapi sudah mengarah pada postpastum depression,” jelas Marisa.
Postpastum depression ini gejalanya lebih kuat lagi. Jika sudah terkena, tidak bisa diatasi sendiri, tapi oleh ahlinya. Marisa menyarankan agar ibu yang akan melalui proses kelahiran, seharusnya sudah ada persiapan mental, fisik, finansial, dan kecukupan terhadap informasi kesehatan. Editor : Safitri