RADAR JEMBER - Rusia resmi memasukkan apa yang mereka sebut sebagai “gerakan LGBT internasional” ke dalam daftar organisasi ekstremis dan teroris, sejalan dengan putusan Mahkamah Agung Rusia pada yang melabeli aktivis LGBT sebagai ekstremis.
Pencatatan itu dilakukan oleh Rosfinmonitoring, lembaga pemantau keuangan Rusia yang memiliki kewenangan membekukan rekening pihak-pihak yang masuk daftar tersebut.
Langkah ini memperluas tekanan negara terhadap komunitas LGBT di Rusia, setelah sebelumnya pengadilan dan aparat mulai memakai label “ekstremisme” untuk menjerat simbol, aktivitas, dan organisasi yang berkaitan dengan LGBT.
Baca Juga: Pemain Argentina Ini Jadi Kaum LGBT? Siapa Dia
Kebijakan itu berdiri di atas rangkaian aturan anti-LGBT yang terus diperketat dalam satu dekade terakhir.
Rusia lebih dulu mengesahkan larangan “propaganda hubungan seksual non-tradisional” kepada anak pada 2013, lalu memperluasnya pada 2022 menjadi larangan promosi LGBT untuk semua usia di media, internet, buku, film, dan iklan.
Di bawah aturan itu, individu dapat didenda hingga Rp1,2 miliar, sementara warga asing juga bisa dikenai penahanan administratif dan deportasi.
Baca Juga: Sorotan Data Kependudukan: 5 Provinsi dengan Populasi LGBT Tertinggi di Indonesia
Rusia juga melarang perubahan gender secara legal maupun medis, menandai bahwa pengetatan ini bukan sekadar sensor simbolik, melainkan bagian dari pembatasan hukum yang semakin luas terhadap ekspresi identitas seksual dan gender.
Semua itu berjalan seiring dengan garis politik Vladimir Putin, yang selama bertahun-tahun membingkai kebijakan tersebut sebagai upaya mempertahankan “nilai-nilai keluarga tradisional” Rusia dari apa yang ia gambarkan sebagai kemerosotan moral Barat.
Dalam berbagai pidatonya, Putin berulang kali menegaskan bahwa Rusia akan berpegang pada keluarga tradisional, nilai agama, dan norma konservatif sebagai identitas nasional, sementara ekspresi LGBT diposisikan pemerintah sebagai simbol dekadensi Barat yang dianggap bertentangan dengan arah negara.
Dengan memasukkan “gerakan LGBT” ke daftar ekstremis dan teroris, Kremlin pada dasarnya bukan hanya membatasi ruang gerak komunitas LGBT, tetapi juga mengangkat perang budaya ini ke level keamanan negara.
Editor : M. Ainul Budi