JAKARTA – Di saat masyarakat bersiap menyambut mudik Lebaran 2026, sebuah ancaman sunyi namun mematikan tengah mengintai dari jarak ribuan kilometer.
Konflik bersenjata yang pecah di Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat --yang berujung pada ancaman penutupan Selat Hormuz-- kini menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat rapuh.
Sebagai negara net importer minyak, ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi global kini menjadi "tumit Achilles" bagi stabilitas nasional.
Kondisi minyak Indonesia saat ini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Dengan konsumsi nasional mencapai 1,5 juta barel per hari, Indonesia terpaksa mengimpor sekitar 1 juta barel di antaranya.
Data terbaru menunjukkan bahwa stok cadangan operasional BBM nasional hanya mampu bertahan sekitar 10 hingga 15 hari apabila jalur distribusi global terhenti total.
Ekonom senior, Prof. Anthony Budiawan, memperingatkan bahwa struktur ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal semacam ini.
"Ketahanan energi Indonesia hanya mampu bertahan sekitar 10 hingga 15 hari apabila distribusi minyak global terhenti akibat konflik geopolitik. Kondisi ini menunjukkan risiko sistemik karena sebagian besar kebutuhan energi nasional masih bergantung pada impor," tegasnya dalam analisis terbaru, dikutip Kamis (5/03/2026).
Mengapa perang di Timur Tengah harus menjadi kekhawatiran setiap rumah tangga di Indonesia? Jawabannya ada pada Selat Hormuz.
Jalur sempit ini dilewati oleh 20-25 persen pasokan minyak dunia. Jika blokade terjadi, harga minyak mentah jenis Brent yang kini sudah menembus $82 per barel (jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar $70) bisa meroket ke angka psikologis $100 - $120.
Dampaknya pun bersifat domino, salah satunya beban subsidi menjadi membengkak. Setiap kenaikan $1 harga minyak dunia berpotensi menambah beban subsidi di APBN hingga Rp10,3 triliun.
Damapka kemudian yakni membuat nilai mata uang Rupiah semakin terkapar. Ketidakpastian global memicu penguatan Dolar AS, mengancam Rupiah terjun bebas ke level Rp17.400.
Inflasi Pangan: Biaya logistik yang naik akan langsung mengerek harga beras, cabai, dan kebutuhan pokok tepat saat konsumsi tinggi di bulan Ramadan.
Pemerintah melalui Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mulai mengambil langkah darurat dengan mengalihkan 25 persen impor minyak dari Timur Tengah ke Amerika Serikat dan Afrika.
Namun, para pengamat menilai ini hanya solusi jangka pendek.
Anggota DPR RI, Azis Subekti, menekankan bahwa transisi energi bukan lagi pilihan, tetapi keharusan untuk bertahan hidup.
"Krisis ini harus menjadi momentum mempercepat diversifikasi energi, memperkuat cadangan strategis, dan mereformasi subsidi agar lebih tepat sasaran. Bantalan sosial bagi kelompok rentan perlu disiapkan sejak awal, bukan setelah tekanan terasa luas," katanya.
Tanpa langkah berani untuk melepaskan ketergantungan pada fosil impor dan memperkuat energi terbarukan domestik, Indonesia akan terus menjadi sandera dari konflik yang terjadi di belahan dunia lain.
Editor : M. Ainul Budi