BACA JUGA : Dua Tim U-15 dan Satu Tim U-13 Lanjut ke Provinsi
Jika sudah include paket enak saja. Semua rombongan naik kereta cepat. Namun, jika tidak include paket, kita harus rela sementara terpisah dari rombongan. Sebab, tak semua jemaah ingin mencoba kereta cepat. Tapi, tak usah khawatir. Dijamin tak akan bingung dan tersesat. Tim dari Persada Indonesia akan menjemputnya sehingga kita bisa kembali gabung dengan rombongan. Naik di Madinah, dijemput di Makkah.
Dalam sehari bisa ada 17 perjalanan Madinah–Makkah dan sebaliknya. Namun, saat saya ke Saudi, kemarin, hanya ada 12 perjalanan sehari. Kereta berkapasitas 417 kursi. Terdiri atas 113 kursi bisnis dan 304 kelas ekonomi.
Jumlah perjalanan itu biasanya ditambah saat Ramadan dan musim haji. Kabarnya, sehari bisa mencapai 50 perjalanan. Sedang di musim liburan kemarin, terbanyak hanya 12 perjalanan sehari. Saat pandemi lalu, operasional kereta ini sempat terhenti. Baru Maret 2021 lalu kereta cepat kembali beroperasi dan secara bertahap normal.
Jam terpadat adalah keberangkatan sekitar pukul 10.00 sampai 17.30 petang. Biasanya, sulit mem-booking kursi ekonomi di jam tersebut. Rupanya, jam keberangkatan itulah yang menjadi favorit yang hendak ke Makkah untuk umrah. Pilihannya tinggal kelas bisnis yang tentu tiketnya lebih mahal.
Harga tiket kereta ini untuk kelas ekonomi sekitar 110–252 riyal. Sedang bisnis 356 sampai 417 riyal. Jika kita pesan jauh-jauh hari, tiket biasanya dijual di batas bawah. Hanya di kisaran 500 ribu jika dirupiahkan. Namun, semakin mendekati keberangkatan tiket akan melambung.
Kita bisa memesan mandiri tiket kereta itu. Tinggal klik laman sar.hhr.sa atau bisa via telepon langsung. Namun, lebih nyaman kita memesan lewat aplikasi tersebut. Sebab, informasi disajikan dengan bahasa Inggris. Mudah mengisi dan membacanya meski kita tak lancar bahasa Inggris. Mirip memesan tiket lewat aplikasi itu.
Di kursi bisnis, satu baris hanya ada tiga kursi. Dua berjejer dan satu terpisah. Ukurannya lebih besar. Sedang di kelas ekonomi, dalam satu baris ada empat. Selain kursi, fasilitas yang membedakan adalah snack, kopi, dan layar hiburan di tiap kursi kelas bisnis. Jika Anda duduk di kelas ekonomi dan ingin kopi atau lapar, bisa menuju gerbong restorasi. Letaknya di tengah-tengah rangkaian kereta. Harga makanan dan minuman di situ relatif murah. Hanya 5 sampai 20 riyal.
Penumpang kereta ini tak hanya jamaah haji dan umrah. Tapi juga masyarakat umum. Ada empat titik berhenti di sepanjang jalur kereta sejauh 450 kilometer. Selain Madinah dan Makkah, kereta berhenti di stasiun KAEC (King Abdullah Economic City) di Rabigh. Hanya kereta jam-jam tertentu yang berhenti di KAEC ini. Rata-rata kereta berhenti maksimal hanya 4 menit di stasiun.
Perjalanan saya saat itu pukul 17.30 dari Madinah. Kereta berangkat tepat waktu, nyaris tak pernah molor, termasuk kedatangan di stasiun singgah. Jam ini termasuk jam padat. Saya beruntung bisa naik di jam tersebut. Sebab, bisa menikmati pemandangan gurun ketika sore dan sensasi naik kereta cepat malam hari. Masuk Jeddah hari mulai gelap.
Kereta ini nyaman sekali. Kereta langsung melesat setelah melewati garis miqat Bir Ali Madinah. Bagi yang berumrah dari Madinah, kebanyakan jamaah mengambil miqat dulu di Bir Ali, baru ke stasiun kereta. Tapi, ada juga yang meniatkan umrah tanpa datang ke Bir Ali. Mereka sudah berpakaian ihram sejak dari hotel, lantas meniatkan umrah saat kereta mulai berangkat. Mungkin karena itu kereta masih berjalan pelan sebelum melewati sejajar miqat.
Kereta ini sebenarnya dirancang untuk melaju sampai 360 kilometer per jam. Namun, sepanjang perjalanan top speed hanya 300 kilometer per jam. Kita bisa memantaunya di layar monitor yang ada di tiap gerbong. Selain top speed, kita bisa memantau suhu udara saat itu. Dan, seberapa jauh lokasi kita dari stasiun-stasiun pemberhentian tadi.
Melesat di jalur rel ganda tengah gurun, getaran kereta ini tak begitu terasa. Namun, menurut istri saya yang pernah naik kereta cepat Shinkansen, Jepang, agak sedikit berbeda. Shinkansen sedikit lebih halus dan top speed-nya lebih tinggi. Untuk cabin noise hampir sama rendahnya. Tak terlalu berisik. Sepertinya sudah sama-sama menerapkan fitur cabin noise yang canggih, sehingga mampu meredam getaran lebih optimal. Untuk interior nyaris sama bagusnya. Hanya secara umum terkesan sedikit lebih luxury Shinkansen. Maklum saja, Jepang mengembangkan teknologi kereta cepat ini jauh lebih lama. Bahkan, saat ini mereka sudah mampu meluncurkan kereta cepat tanpa pengemudi. Semuanya serba otomatis, dan jika ada trouble bisa dikendalikan dari jarak jauh.
Selain hemat waktu, naik kereta cepat ini sangat membantu mempertahankan stamina selama di Tanah Suci dengan suhu yang ekstrem. Jarak Makkah–Madinah yang biasa ditempuh 5-6 jam naik bus, maksimal hanya 2,5 jam dengan kereta. Badan juga tak terguncang-guncang keras.
Untuk jemaah umrah yang durasi tinggal 9 sampai 16 hari, kereta cepat ini sangat membantu. Selain, jika memungkinkan, memilih travel yang pesawatnya langsung landing di Madinah. Lebih-lebih yang mengambil program 9 hari dan berasal dari Jember sekitar. Supaya tak capek di jalan.
Kegiatan selama di Makkah–Madinah sangat padat dan butuh kesiapan fisik. Apalagi jika kita juga menjadwalkan untuk lebih mengeksplorasi Makkah-Madinah maupun napak tilas perjuangan Nabi dalam berdakwah.
Cuaca di Saudi yang ekstrem–hanya ada panas dan dingin–butuh daya tahan tubuh yang baik. Pada musim panas, suhu biasanya di atas 40 bahkan tak jarang sampai 46 derajat Celsius. Sedang di musim dingin bisa mencapai 10 derajat. Bahkan di Madinah, pada dini hari bisa mencapai 7 derajat. Saya pribadi lebih suka musim dingin. Sebab, di musim dingin semisal kita ketinggalan jamaah masjid dan terpaksa harus salat di pelataran Nabawi maupun Masjidilharam, masih cukup nyaman. Yang penting tutup telinga dan kaki. Mau berangkat juga semangat. Sebab, pengalaman saya berangkat saat musim panas, di suhu 42 derajat Celsius kepala saya terasa nyut-nyut saat menembus terik matahari berjalan menuju masjid. Mau explore kota maupun napak tilas jejak perjuangan nabi juga tak maksimal. Akhirnya, rutinitas hanya sebatas hotel dan masjid.
Perbedaan iklim dengan tanah air inilah yang sering kali menimbulkan masalah jika tak diantisipasi dengan menyiapkan fisik secara baik. Dengan kondisi fisik yang fit, kita bisa habis-habisan saat di Madinah maupun Makkah. Pol-polan ibadah. (selesai) Editor : Safitri