Radar Jember - Dalam tradisi menjelang Hari Raya Nyepi, pawai ogoh-ogoh menjadi momen yang paling dinanti.
Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang menggambarkan sosok bhuta kala atau simbol sifat-sifat negatif dalam diri manusia.
Wujud ogoh-ogoh memang dirancang dramatis untuk merepresentasikan sifat buruk seperti amarah, keserakahan, iri hati, atau kesombongan.
Baca Juga: Update Mudik Bondowoso: Terminal Ramai, Bus Diperiksa Ketat
Ekspresi ekstrem dan detail yang kuat justru bertujuan menggambarkan betapa destruktifnya sifat-sifat tersebut jika tidak dikendalikan.
Semakin kuat karakter visualnya, semakin tegas pula pesan moral yang ingin disampaikan: bahwa energi negatif harus dikenali dan dilepaskan.
Dalam perkembangannya, ogoh-ogoh tidak hanya berbentuk raksasa tradisional. Banyak karya yang mengangkat isu sosial, kritik moral, bahkan fenomena modern.
Desain yang tampak “paling menyeramkan” biasanya lahir dari kreativitas tinggi para pemuda banjar yang ingin menampilkan karya spektakuler sekaligus bermakna.
Baca Juga: Bupati Bondowoso Sidak BBM hingga Bahan Pokok, Warga Diminta Tenang Stok Diklaim Masih Aman
Alih-alih sekadar menampilkan kekejaman, ogoh-ogoh menjadi media refleksi sosial dan spiritual.
Setelah diarak pada malam Pengerupukan, ogoh-ogoh umumnya dimusnahkan atau dibakar.
Proses ini melambangkan penghancuran sifat buruk dan energi negatif sebelum memasuki keheningan Nyepi.
Dengan demikian, ogoh-ogoh yang tampak “paling kejam” justru membawa pesan penting: manusia harus berani menghadapi sisi gelap dalam dirinya untuk kemudian membersihkannya.
Tradisi ogoh-ogoh bukan tentang menonjolkan kekerasan, melainkan tentang simbolisasi dan pengendalian diri.
Visual yang kuat adalah cara budaya Bali menyampaikan pesan moral secara artistik dan kolektif.
Di balik wajah yang garang dan tampilan dramatis, ogoh-ogoh menyimpan filosofi mendalam tentang introspeksi, keseimbangan, dan harapan akan kehidupan yang lebih harmonis di tahun yang baru. (ona/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh