Tanpa tersa ia menjadi mu’alaf selama 20 tahun ketika menjalani hidup sebagai anak kos saat menempuh bangku kuliah di UGM Jogjakarta. Ketika kuliah Fransiska merasakan bermacam-macam karakter, suku, dan agama, dia temui silih berganti dan keberagaman itu bagian dari Indonesia.
“Ibadah magrib selalu aku nanti terutama saat lantunan ayat suci Qur’an mulai terdengar. Sehingga ini membuat hatiku semakin tenteram dari hari ke hari. Saat itu teman ku salat di kamar depan kamarku. Dia habis salat suka mengaji dan suara temanku ini bagus sekali, sehingga bikin hatiku terasa adem,” terang Fransiska.
Kekaguman Fransiska tersebut tidak berhenti pada ayat-ayat suci Qur’an, ia terkesima saat melihat setiap gerakan-gerakan salat seorang teman. Mulai dari gerakan rukuk hingga sujud dia perhatikan dengan seksama, di mata Fransiska salat itu indah sekali, dari situ ia kemudian tersentuh kemudian lantas sedikit demi sedikit mencoba mengenal Islam.
Dari kisah perjalanan panjang Fransiska memeluk agama Islam, ia berpesan kepada semua umat Islam untuk tetap berbuat baik kepada saudara-saudara non muslim. Hal ini karena agama Islam merupakan agama rahmat untuk sesama, apalagi Islam mengajarkan orang untuk hidup damai dan saling menghormati orang lain.(*)
Penulis : Winardyasto
Foto : Radar Jogja
Sumber Berita : Radar Jogja Editor : Alvioniza