JAKARTA, Radar Jember – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tekanan kuat. Pada Rabu (24/6/2026), indeks tercatat merosot lebih dari 3 persen akibat dominasi sentimen global.
Ekspektasi kebijakan suku bunga global yang tetap hawkish menjadi pemicu utama. Investor global kini lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset berisiko.
Baca Juga: Sentimen Hawkish Global Hantam IHSG, Sektor Energi hingga Infrastruktur Terkapar
Pengamat pasar modal Reydi Octa menjelaskan, pelaku pasar saat ini masih fokus pada arah kebijakan moneter bank sentral dunia. Potensi suku bunga tinggi dalam waktu lama menjadi kekhawatiran utama.
Baca Juga: Belum Ada Kasus Hantavirus di Bondowoso, Dinkes Terus Gencarkan Edukasi ke Masyarakat
Kondisi tersebut diperparah oleh penguatan dolar Amerika Serikat yang membuat daya tarik investasi di negara berkembang menurun. Arus modal keluar pun sulit dihindari.
Selain itu, dinamika geopolitik global turut memperbesar ketidakpastian. Investor memilih strategi defensif untuk menjaga portofolio mereka dari risiko.
Dari sisi domestik, belum adanya katalis kuat membuat investor asing masih menahan diri. Mereka menunggu perbaikan likuiditas pasar serta stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Jembatan Sentong Belum Selesai, DPRD Bondowoso Sebut Jalan Alternatif Masih Bobrok
Data BEI menunjukkan IHSG turun ke level 5.917,57 dengan nilai transaksi mencapai Rp10,63 triliun. Tekanan jual mendominasi hampir seluruh saham yang diperdagangkan.
Meski begitu, peluang rebound masih terbuka. Jika tekanan eksternal mereda dan kondisi domestik membaik, IHSG berpotensi kembali menguat dalam jangka menengah.
Editor : Faqih Humaini