Radar Jember – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor terburuk dengan anjlok hingga 4,42 persen pada pembukaan perdagangan Kamis pagi (4/6/2026).
Hal ini memperpanjang tren negatif pasar modal Indonesia yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
IHSG langsung merosot ke level 5.680 pada sesi pembukaan.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 547 saham bergerak terkoreksi, dan hanya 88 saham yang mampu menguat, sementara itu, 321 saham lainnya tercatat bergerak stagnan.
Dengan aktivitas transaksi pagi ini mencapai 397,9 ribu kali dengan volume 5,23 miliar saham senilai Rp3,38 triliun.
Kejatuhan ini meneruskan rapor merah dari hari sebelumnya. Pada Rabu (3/6/2026), IHSG sudah ambruk 4,94 persen atau kehilangan 305,94 poin ke posisi 5.889,48.
Angka tersebut menjadi level terendah bursa domestik dalam lima tahun terakhir, secara akumulatif (year-to-date), performa IHSG telah merosot 32,12 persen, atau jatuh hingga 36 persen dari puncak intraday yang sempat diraih pada Januari 2026 lalu.
Analis dari Indo Premier Sekuritas mengungkapkan, tekanan jual massal ini dipicu oleh rentetan sentimen negatif global maupun domestik.
Mulai dari sentimen keluar portofolio yang terkait rebalancing indeks MSCI, defisit transaksi berjalan kuartal I 2026 sebesar USD 4 miliar atau 1,09 persen dari PDB, hingga tingginya permintaan valas musiman untuk pembayaran utang luar negeri.
Faktor eskalasi konflik geopolitik dunia dan kejatuhan saham konglomerasi besar turut memperparah keadaan, krisis kepercayaan investor ini terlihat jelas dari derasnya modal asing yang kabur (capital outflow).
Data BEI mencatat, investor asing membukukan net sell fantastis lebih dari Rp53,97 triliun di pasar saham sejak awal tahun. Selain itu, arus keluar dari pasar obligasi pemerintah juga menyentuh angka Rp14,29 triliun.
Saking masifnya aksi jual, sebagian analis menilai kondisi bursa domestik saat ini mulai menyerupai fase capitulation.
Kondisi ini merujuk pada fenomena pelepasan aset secara besar-besaran oleh pelaku pasar akibat merosotnya tingkat kepercayaan terhadap ekosistem investasi nasional.
Kondisi bursa saham kian tertekan menyusul anjloknya nilai tukar rupiah yang hari ini bertahan di level Rp18.015 per dolar AS.
Analis MNC Sekuritas menegaskan pelemahan kurs menjadi pendorong utama kejatuhan indeks.
Menanggapi situasi ini, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai tantangan utama saat ini ada pada transparansi dan efisiensi implementasi kebijakan pemerintah di lapangan.
Kredibilitas pasar modal Indonesia kini bersiap menghadapi serangkaian ujian internasional pada pertengahan bulan.
Dimulai dari MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell pada 19 Juni, serta ditutup oleh MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni mendatang.
Penulis: Bakhtiyar Subandi
Editor : Imron Hidayatullahh