BACA JUGA : Pembahasan LPP APBD 2022 Mulai Dilakukan, Silpa Turun 82 Persen
Semua itu berawal ketika Aha lulus dari SMK 1 Bondowoso pada 2013 silam. Dia memutuskan untuk mengadu nasib di Jember. Sebab, untuk melanjutkan kuliah di Malang terkendala biaya. Mengingat bapaknya hanya seorang penarik becak biasa. “Awal itu saya menjadi pegawai fotokopi, dengan gaji Rp 100 ribu per minggu,” katanya. Per bulan dia pun hanya dapat Rp 400 ribu.
Selang beberapa bulan, dia diterima sebagai mahasiswa Universitas Negeri Jember (Unej). Melalui jalur beasiswa Bidikmisi. Dari sanalah nasibnya mulai berubah, tepatnya setelah bertemu dengan seorang pebisnis ternama, Rudi Antoni. Ketika mau membuat ucapan selamat yang akan ditayangkan di Jawa Pos Radar Jember. “Saya ditanya bisa desain atau tidak. Saya jawab bisa, terus diajak kerja ikut dia dulu,” ucapnya.
Akhirnya, Aha memutuskan untuk resign dari tempatnya bekerja. Serta bergabung dengan pengusaha tersebut. Seakan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, dia belajar banyak terkait dunia usaha. Seperti dari tawar menawar, hitung-hitungan, dan sebagainya. Mengingat, dia selalu bersama dengan pengusaha itu.
Pada 2014, usaha baru kembali dia tekuni, yakni bergerak dalam desain dan fotografi untuk buku tahunan sekolah. Setelah bertemu dengan fotografer asal Probolinggo. Pengalaman pertamanya langsung mendapatkan empat klien sekolah. Kemudian pada 2015, sukses bekerja sama dengan 12 sekolah di Jatim. Masing-masing bisa MoU sejumlah Rp 80 juta. “Itu saya tabung, sambil tetap ikut Ko Acho, pengusaha Cina,” imbuhnya.
Setelah dirasa memiliki modal, pada 2017 Aha memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Meskipun sempat tidak mendapatkan izin dari Ko Acho yang dia ikuti. Usaha pertamanya adalah investasi untuk berjualan makaroni, Macarena. Uang yang dikeluarkan mencapai ratusan juta, digunakan untuk menyewa ruko dan sebagainya. Omzet yang dihasilkan bisa mencapai seratus juta dalam satu bulan. “Di situ saya sadar, enak ya bisnis kalau tahu cara mengelolanya,” tegasnya.
Setelah dirasa sukses dalam bidang usaha itu, Aha kembali memutuskan untuk membuka usaha dalam bidang manajemen sosial media. Dirasa belum cukup, usaha baru penyewaan kamera pun kembali dibuka. Hingga dia bisa membeli mobil untuk dirinya. Namun, karena banyak ditanya disewakan atau tidak, akhirnya merambah ke sewa mobil dan penyewaan apartemen. “Saya ini kan, perintis bukan pewaris. Jadi, jatuh bangun sudah biasa,” ucapnya.
Meski usahanya terlihat cukup mulus, ternyata Aha juga mengalami berbagai tantangan. Salah satunya banyaknya kompetitor di Jember, menjaga kualitas barang atau jasa yang ditekuni, melakukan inovasi, dan lainnya. Namun, tantangan paling besar menurutnya adalah menjaga sumber daya manusia yang ada. “Saya pernah sudah memanusiakan karyawan saya. Namun, mereka main di belakang saya,” paparnya.
Lebih lanjut, dia juga mengatakan, untuk memulai usaha, hal pertama yang dibutuhkan adalah mindset. Tentunya dengan perhitungan dan eksekusi yang tepat. Kegagalan menurutnya adalah hal yang biasa. Serta tidak menjadi alasan untuk berhenti berusaha. “Saya yakin setiap orang memiliki jatah gagal masing-masing,” pungkasnya. (c2/nur) Editor : Safitri