Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Warung Murah Rp 2 Ribu per Bungkus, Untung Rugi Tak Masalah

Safitri • Kamis, 6 April 2023 | 19:23 WIB
PEDULI SESAMA: Warung murah yang disediakan oleh para perempuan dan ibu-ibu untuk keperluan masyarakat yang kebetulan melintas di sekitar Jalan Kartini atau Depan Kantor Dinas Ketenagakerjaan Jember.   
PEDULI SESAMA: Warung murah yang disediakan oleh para perempuan dan ibu-ibu untuk keperluan masyarakat yang kebetulan melintas di sekitar Jalan Kartini atau Depan Kantor Dinas Ketenagakerjaan Jember.  
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Sore itu menjelang azan Magrib, beberapa orang terlihat memadati sebuah pelataran atau halaman rumah di Jalan RA Kartini, atau persis di depan Kantor Disnaker Jember. Sesekali orang yang melintas di sekitar jalan tersebut juga berhenti, dan mendatangi ibu-ibu yang terlihat sibuk melayani masyarakat yang datang kala itu.

BACA JUGA : Bakal Gigit Jari, Tahun Ini Tenaga Honorer Jombang Tak Diberi THR

Beberapa ada driver ojek online, bapak-bapak tukang becak, atau masyarakat yang kebetulan melintas. Mereka silih berganti mengantre untuk mendapatkan nasi bungkus, plus air mineral gelas, yang diambilnya dari lokasi ibu-ibu tersebut. "Lumayan untuk buka puasa," sahut seorang pemuda yang saat itu mengambil nasi bungkus tersebut.

Rupanya para perempuan di sana memang sengaja menjajakan nasi bungkus siap makan kepada siapa pun yang mampir atau singgah. Uniknya, mereka membanderol jualannya dengan harga yang jauh di bawah rata-rata. Hanya Rp 2 ribu per porsi.

Diketahui, para ibu-ibu ini merupakan anggota dari Wanita Katholik Republik Indonesia (WKRI) Jember. Mereka hampir setiap sore menjelang berbuka puasa terlihat di kawasan yang sama dengan jualan nasi bungkus seharga Rp 2 ribu. "Ada sekitar 200 nasi bungkus setiap harinya yang kami sediakan," kata Ketua WKRI Kartini Cabang Jember Elucia Francisca Elly Krisnaningsih saat ditemui, Senin (3/4).

Diketahui, kegiatan menjual nasi dengan sistem banting harga itu sudah berlangsung selama kurun waktu dua dekade terakhir. Elly juga mengakui demikian. Inisiatif gerakan itu berangkat dari kepedulian terhadap setiap masyarakat yang tengah menjalankan ibadah puasa, namun tidak bisa melaksanakan berbuka puasa lantaran berbagai persoalan.  Karena rumahnya jauh, warung banyak yang ramai, jam pulang kantor yang padat, dan sederet lainnya.

Atas dasar itu, Elly dan kawan-kawannya berinisiatif membuka warung murah yang dibanderol Rp 2 ribu. Harga itu sengaja dipatok murah meriah. "Kami menghargai setiap orang. Kalau diberi secara cuma-cuma, mungkin kesannya kurang gimana, tersinggung atau bagaimana," akunya.

Beberapa orang yang tengah membeli nasi saat itu kebanyakan hanya membeli satu, beberapa membeli dua dan tiga bungkus. Pihak WKRI sepertinya memberlakukan pembatasan pembelian dalam jumlah banyak. "Kami memang batasi 10 bungkus. Soalnya tahun lalu ada yang membeli banyak ternyata dijual lagi," kenangnya.

Nasi bungkus murah itu juga bukan diperuntukkan kalangan muslim yang menjalankan puasa saja. Namun juga masyarakat secara umum. Sasaran utama mereka adalah warga yang membutuhkan, dan karena itu mereka sengaja mengambil momen saat Ramadan. Kata Elly, di bulan Ramadan ini semua orang butuh makan secara serentak. Jadi, banyak yang mau makan. Kalau hari biasa kan kadang ada yang sudah makan, ada yang belum. Jadi, gak serentak makannya," katanya.

Untuk ukuran seharga Rp 2 ribu plus air mineral gelas, sebenarnya tak sebanding dengan menu yang dijajakan. Biasanya, ibu-ibu di sana memberikan menu yang bervariasi setiap harinya. Ada nasi, telur, sayur lodeh atau tumis, sambal, ikan tongkol, lauk ayam, dan beberapa lainnya. Tak ketinggalan juga lauk sejuta umat, tahu dan tempe.

Meski terkesan dijual rugi, para pengurus WKRI sepertinya tidak terlalu menghitung untung rugi, yang penting bisa membantu sesamanya, sudah dirasa cukup. Diketahui pengadaan nasi murah itu juga dilakukan secara swadaya antara anggota WKRI serta donatur dari kelompok masyarakat lain atau agama lain. Sehingga nuansa toleransi di balik nasi bungkus itu begitu terasa. "Jadi, ada juga dari agama Hindu, Buddha, dan Islam memberi sumbangan kepada kami dalam mendukung kegiatan sosial ini," kata Elly.

Sebelum menjajakan nasi, ibu-ibu itu terlebih dahulu memasaknya, yang dilakukan secara tim. Biasanya dilakukan siang hari sekitar pukul 11.00 dan mulai dibungkus pukul 15.30. Sehingga pukul 16.00 mereka telah ready menjajakan nasi murah tersebut.

Sejak awal Ramadan, warung murah itu juga diketahui telah buka, mengambil hari efektif sedari Senin, Selasa, Rabu, hingga Kamis. Sementara untuk hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, warung libur karena para anggota ada kegiatan beribadah ke gereja.

Beberapa warga lain yang diketahui tengah membeli nasi murah itu mengaku bahagia. Hal itu terlihat dari pancaran senyum merekah yang mereka tunjukkan, sambil memegang nasi seharga Rp 2 ribu yang baru saja dibelinya. "Biasanya di warung Rp 10 ribu, ini cuma Rp 2 ribu, jelas sangat bermanfaat sekali," aku Slamet Surojo, seorang jukir yang pembeli nasi di warung WKRI saat itu.

Slamet mengaku rutin membeli di warung tersebut. Bahkan menjadi pelanggan tetap. Selain karena faktor ekonomi yang pas-pasan, dengan membeli di warung murah itu pekerjaannya bisa lebih mudah diatasi. "Sudah lima tahunan lalu saya biasa beli nasi di sini, karena sangat membantu pekerjaan saya," kata Slamet. (c2/nur) Editor : Safitri
#Jember