BACA JUGA : Di Bondowoso, Anak Belum Lulus SD Sudah Ada yang Ditunangkan
Kopi memiliki peluang yang cukup menjanjikan di dunia usaha, karena kopi mempunyai nilai jual yang tinggi di dunia internasional. Sebagian besar ekspor kopi Indonesia adalah jenis robusta, dan sisanya adalah jenis arabika. Selain itu, peluang kopi robusta di dalam negeri juga cukup besar. Hal itu disebabkan oleh permintaan produk-produk kopi dan olahannya masih sangat tinggi. Pasar domestik dengan penduduk 200 juta jiwa lebih merupakan pasar potensial. Oleh karena itu, peluang perkopian di Indonesia masih ada untuk pengembangan di masa yang akan datang.
Hal itulah yang dilakukan oleh Bupati Jember Hendy Siswanto pada tahun 2021, yang sudah mendeklarasikan Kabupaten Jember sebagai pusat kopi robusta terbaik di Indonesia. Dalam rangka memperingati Hari Kopi Internasional yang digelar di Bandara Jember.
Adanya kegiatan tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha kopi daerah Jember. Jawa Pos Radar Jember telah menyurvei tiga lokasi tempat perkopian yang ramai bagi kalangan muda di daerah kampus, yakni Bassecamp Kopi, Navas, dan Nugas. “Untuk kopi robusta kami ngambilnya asli daerah Jember, yakni di Puslit dan memang sudah langganan dari dulu,” ucap Ahmad Baihaqi Sujana, karyawan pembuat kopi di kedai Basecamp Kopi.
Ada beberapa kopi juga yang diproduksi sendiri. Tetapi, yang paling laris dan favorit yakni kopi robusta Jember. “Alasannya kami menggunakan kopi robusta Jember karena rasa pahitnya. Beda. Entah dari grade atau kualitas kopi,” tegasnya.
Sementara, menurut Eko Subandi, pegawai di kedai Nugas, kopi robusta yang dijual diambil dari daerah Silo. “Kami juga memiliki beberapa kopi robusta ada yang dari Banyuwangi dan ada yang dari Jember, tetapi tetap yang paling laris kopi asli Jember,” beber Eko.
Hal itu berbeda dengan kedai kopi Navas yang baru-baru ini didirikan di daerah Jember. Menurut M Wahyu Arifin, supervisor Kedai Navas, kopi robusta dari produknya sendiri. “Tapi, untuk kopi arabika kami ngambil dari Jember. Karena usaha kopi ini cabangnya, dan kami cuma mengikuti SOP yang ada di Malang, dan ingin menunjukkan ciri khas dari usaha ini,” kata pria 23 tahun itu. (mg4/c2/nur)
Editor : Safitri