BACA JUGA : Bukan Kanvas dan Kuas, Pria di Jember Ini Melukis di Kayu Gunakan Solder
Bolak-baliknya seorang perempuan itu membuat rasa penasaran Sri Sulistiyani semakin besar. Perempuan yang menjadi Direktur GPP Jember itu pun sangat ingin mendengarkan cerita ibu empat anak yang tak disebutkan namanya itu. Rasa ingin tahu kian besar karena perempuan tersebut berkali-kali datang, namun balik kanan.
Sulis menyebut, ada benang merah yang dapat diambil dari kisah pilu yang dialami ibu empat anak itu. Yakni, dia tetap bertahan hidup meski mendapat kekerasan dari sang suami. Ada kekhawatiran yang menghalangi ibu tersebut, yakni tidak mampu secara ekonomi, sehingga takut tidak bisa menghidupi diri dan anak-anaknya setelah berpisah.
Namun, setelah lima tahun berlalu, anak sulungnya bisa bekerja dan menjadi tulang punggung. Saat kondisi ekonomi membaik karena anaknya ada yang bisa bekerja, maka dia pun percaya diri dan mampu akan bisa hidup tanpa dukungan finansial suami yang kasar itu.
Kisah ini membuat Sulis mendirikan gerakan penguatan ekonomi perempuan. Menurutnya, semua perempuan berhak mandiri secara ekonomi yang kemudian bisa meningkatkan kepercayaan diri dalam setiap mengambil keputusan. Gerak dan kreativitasnya bisa disalurkan. Terlebih, Sulis berpikir, saat ini perkembangan digitalisasi memberikan ruang eksistensi bagi banyak kalangan, termasuk perempuan. Dia pun membuat Pasar Kita (Paskit) yang berisi perempuan untuk menjadi kumpulan pedagang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Syarat ikut di Paskit ini adalah perempuan.
GPP yang berkantor di Perumahan Royal City, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, itu berhasil mengembangkan Paskit hingga ke seluruh Jember. Media penjualannya terpusat di 32 grup WhatsApp sesuai kecamatan, grup Facebook, hingga website. Sejak tahun 2015, GPP memaksimalkan sistem digital sebagai basis anggota Paskit guna memasarkan produknya. Mulai dari makanan, minuman, busana, aksesori, barang pecah belah, properti, sampai penjualan jasa seperti les privat dan salon keliling.
Pedagang sekaligus pembeli berada dalam satu ruang di grup WA. Jumlah anggotanya sudah melebihi dua ribu perempuan. Transaksi yang terjadi berputar, sesekali mengikuti pameran UMKM di ruang terbuka. Konsep kemandirian ekonomi diterapkan dengan empat pilar. “Konsep kamilah yang membedakan Paskit dari beragam pasar online,” ungkap perempuan yang juga menjadi guru matematika pada salah satu sekolah di Jember itu. Dia pun terus membesarkan Paskit dengan sejumlah aktivis lain, seperti Yamini, perempuan yang dikenal sebagai aktivis yang kerap mengadvokasi perempuan di Jember.
Menurutnya, dalam Paskit, empat pilar itu dijaga. Ada Swapasar terbangun dengan saling menjual dan membeli antaranggota. Swabelajar, saling bertukar informasi dan pengalaman tentang berbagai persoalan. Swadukung, bentuk perempuan mendukung perempuan dengan saling rangkul dalam berbagai masalah. Swadana, saling bantu memberikan donasi untuk berbagai kepentingan seperti biaya advokasi pada korban kekerasan. Tak menerima bantuan modal dengan cara berutang. Apa saja yang menjadi kemampuan anggotanya, itulah yang akan diarahkan menjadi bahan memulai usaha. Dimulai dari modal sekecil apa pun secara mandiri.
Setiap hari mengunggah produk di grup WA. Pembeli yang tertarik akan mengirimkan pesan pribadi untuk melakukan transaksi. Barang yang dipesan lalu akan diantar kepada konsumen sesuai kesepakatan. Ribuan anggota yang aktif berjualan secara daring itu memberikan sinyal bahwa ruang digital bagi perempuan akan berbuah manis dan kembali pada penguatan ekonominya dan keluarga.
Sulis meyakini bahwa perempuan memiliki andil yang setara dengan laki-laki dalam mencari nafkah. Bahkan, untuk urusan menghadapi gelombang digital yang semakin berkembang, perempuan dianggap yang paling siap. “Jika mereka sudah memegang akses internet, yang dipikirkan adalah bagaimana media digital bisa bermanfaat untuk keluarga,” tuturnya sembari menunjukkan aktivitas Paskit di ponselnya.
Penataan sistem dibuat demi keberlanjutan Paskit. Katalog produk digital juga dibuat dan dipampang website resmi GPP. Tak hanya itu, beragam pelatihan dikemas untuk mengembangkan kualitas produk di Paskit. Tim advokat GPP mendampingi anggota Paskit untuk melakukan perizinan pangan industri rumah tangga (PIRT) hingga perizinan label halal di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Muniyah Bahirah, 39, penjual aneka kue di Paskit Kecamatan Kaliwates, mengaku terbantu dengan Paskit. Kue-kue buatannya bisa dikenal di mana-mana. Sering kali ia menerima pesanan sejak bergabung pada 2018 lalu. Kini omzetnya bisa tembus Rp 6 juta per bulan. Kepintarannya dalam urusan kue membuatnya semakin merasa diuntungkan. Sebab, dengan pemasukan itu, Ira, sapaannya, bisa mandiri secara finansial bersama satu putrinya.
Single parent sejak empat tahun lalu, membuatnya memutar otak untuk membagi peran sebagai ibu dan ayah. Pandangannya berubah saat perceraian ditakdirkan dalam hidupnya. Ira semakin aktif bermedia sosial demi melancarkan usahanya. “Saya sedang mencari komunitas yang menjadi wadah di mana saya bisa berjualan secara online,” katanya mengungkapkan alasan bergabung di Paskit.
Kini, Paskit tak sekadar beredar melalui WA maupun medos yang sifatnya gratis seperti Facebook dan Instagram. Namun, Paskit juga telah memiliki website yang berisi tentang dagangan perempuan, mulai dari makanan hingga jual tanah. (c2/nur) Editor : Safitri