Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dampak Berkembangnya Tren Baju Thrift, Tingkatkan Sampah Pakaian

Safitri • Jumat, 19 Agustus 2022 | 21:48 WIB
DIMINATI: Pasar baju bekas di Mangli yang masih tetap eksis. Tren baju bekas atau thrifting juga berdampak pada lingkungan, yaitu meningkatkan sampah pakaian.
DIMINATI: Pasar baju bekas di Mangli yang masih tetap eksis. Tren baju bekas atau thrifting juga berdampak pada lingkungan, yaitu meningkatkan sampah pakaian.
PAKUSARI, Radar Jember – Tren thrifting atau di Jember disebut baju bekas bos (babebo) saat ini sedang digandrungi anak muda. Pasalnya, thrifting merupakan kegiatan membeli pakaian bekas dengan kondisi masih layak pakai dan harganya yang miring. Sayangnya, tren tersebut berdampak pada lingkungan, yaitu bertambahnya sampah dari luar negeri.

BACA JUGA : Mahasiswa Polije Kembangkan Hasil Panen Kelapa Jadi Olahan Bernilai Tinggi

Menurut Kasi Pengelolaan Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember Nurul Hidayah, bagi kalangan konsumen, adanya thrifting menguntungkan. Sebab, bisa mendapatkan pakaian dengan harga murah dan bermerek. Namun, di balik itu yang perlu dipahami adalah adanya dampak lingkungan. “Thrifting sama halnya dengan mendatangkan sampah dari luar negeri,” ucapnya.

Sebab, baju thrifting adalah baju bekas yang di negara asalnya tidak dipakai atau menjadi sampah. “Mayoritas pakaian bekas yang dijual itu kiriman dari luar negeri, bukan dari dalam negeri. Sehingga bukan menyelesaikan masalah sampah pakaian yang ada di Indonesia. Tapi, justru membawa sampah pakaian luar negeri ke Indonesia,” ungkapnya.

Menurut Cak Oyong, sapaan akrab Nurul Hidayah, dalam satu paket kiriman pakaian bekas dari luar negeri tidak semua kondisinya baik. Bahkan diperkirakan isi pakaian yang layak jual hanya 60 persen. Sedangkan sisanya 40 persen adalah pakaian tidak layak jual. “Iya, yang kondisi pakaian tidak layak jual itu hanya punya dua pilihan, dibakar atau dibuang ke sungai. Dan itu yang semakin menambah volume sampah pakaian, terutama di sungai-sungai. Sangat sering kami temui sampah pakaian di sungai-sungai yang ada di Jember,” ungkapnya.

Melihat fenomena tren thrifting, Cak Oyong menyampaikan bahwa perlunya pertimbangan yang matang dalam memilih pakaian. Seperti halnya memilih pakaian yang tidak hanya melihat dari tren. Namun, juga memperhatikan segi fungsi dan kualitas pakaian agar dapat bertahan lama. Sehingga tidak menambah sampah, terutama sampah pakaian. (mg2/c2/dwi)

 

  Editor : Safitri
#thrifting #Jember #baju bekas