BACA JUGA : Seorang Ibu Meninggal Saat Lomba Balap Karung, Ini Penyebabnya
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arif Joko Sutejo menjelaskan, saat ini inflasi di Jember sangat tinggi hingga melebihi Jawa Timur. Dengan adanya kenaikan tarif ojol, tentu saja berpengaruh pada inflasi. “Harga tarif ojek online yang tinggi bisa memengaruhi inflasi. Karena tarif ojol termasuk kelompok pengeluaran transportasi,” ujarnya.
Perhitungan inflasi biasanya terhitung sebulan sekali. Memang saat ini tarif ojek online naik. Dia mencontohkan, tarif ojol dari Jalan Jawa ke Jalan Mastrip awalnya Rp 8 ribu menjadi Rp 11 ribu. Jika lama-lama tarif ojol tetap naik dan tidak turun, maka kelompok pengeluaran transportasi menjadi penyumbang inflasi.
Solehat, salah satu driver ojol, mengaku pendapatannya turun saat ada kenaikan tarif ojol. “Memang betul tarif ojek online naik, namun pendapatan kami malah tetap, bahkan menurun,” ujarnya.
Pria 29 tahun terebut sudah dua tahun menjalani pekerjaan sebagai driver ojol. Saat awal menjadi ojol, pendapatan sehari bisa mencapai Rp 200 ribu bahkan Rp 300 ribu. Namun, saat ini dari pagi bekerja hanya mendapatkan Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.
Ia sendiri mengatakan, potongan pendapatan yang diperoleh driver ojol juga naik. Awalnya hanya 20 persen, sekarang hampir 50 persen. “Itu juga menjadi salah satu penyebab mengapa penghasilan kami menjadi tetap, bahkan berkurang, meskipun tarif ojol sudah dinaikkan,” katanya.
Salah satu warga Jember, Siti Aminah, mengeluhkan harga tarif ojol yang semakin naik. “Biasanya saya jika pergi ke pasar atau sekadar ingin ke minimarket menggunakan jasa ojol. Tapi, sekarang tidak pakai ojol lagi, karena harganya naik,” paparnya. (mg1/c2/dwi)
Editor : Safitri