BACA JUGA : Dana Pemain Bola Kurang!
Dengan tingginya kasus suspek PMK yang mencapai 600 ekor membuat para peternak sapi kalang kabut. Akibatnya, dengan terpaksa mereka menjual sapinya dengan harga murah. Dwi Widiyanto misalnya, dia merupakan salah satu peternak sapi asal Dusun Gawok, Desa Dukuh dempok, Kecamatan Wuluhan, yang memilih tidak menjual sapinya. "Kondisi ini cukup menyulitkan," terangnya.
Saat ini, dia dan teman-teman sesama peternak sapi memilih untuk tidak menjual sapinya, hingga harganya benar-benar stabil. Selain itu, dirinya lebih rajin membersihkan kandang dan tidak mengeluarkan sapinya ke pasar hewan.
Penurunan harga terjadi sejak awal Mei. Menurut dia, sejak saat itu harga sapi mulai tidak stabil. "Harga mulai tidak stabil sejak awal Mei kemarin. Harga yang dulu Rp 20–22 juta, sekarang jadi Rp 17–18 juta," ujarnya.
Jika dihitung-hitung, penurunan harga di kisaran angka Rp 2 juta sampai Rp 4 juta. Penurunan ini cukup merugikan peternak sapi, karena nasib peternak sapi akan terancam. "Yang jelas, kalau ini dibiarkan, maka nasib peternak akan terancam," tuturnya. Dia berharap kepada pemerintah agar segera mengambil tindakan tegas, sebelum penyebaran PMK meluas. (mg6/c2/dwi) Editor : Safitri