Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Maksimalkan Bambu jadi Kerajinan

Safitri • Senin, 6 Juni 2022 | 19:45 WIB
KREATIF: Fauzi Rizal saat menganyam bambu di rumahnya, Desa Glagahwero, Kalisat.
KREATIF: Fauzi Rizal saat menganyam bambu di rumahnya, Desa Glagahwero, Kalisat.
GLAGAHWERO, Radar Jember – Kerajinan tangan perajin lokal patut mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Sebab, mereka adalah aset yang berpotensi bagi kemajuan ekonomi daerah. Seperti kerajinan lampu hias yang ada di Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat. Anyaman bambu yang estetis mampu memberikan nilai seni pada bentuk kerajinan tersebut.

BACA JUGA : Usaha Pembakaran Batu Gamping Terancam Tutup

Sebagai usaha yang dikerjakan dari rumah, Rizal membuat kerajinan anyaman bambu dengan suka cita. Dia anggap pekerjaanya itu adalah hobinya.  “Saya mulai senang dengan kerajinan itu sejak tahun 1998. Awalnya melihat keluarga yang sedang membuat anyaman, akhirnya saya belajar,” kata Fauzi Rizal kepada Jawa Pos Radar Jember.

Dia membentuk anyaman bambu menjadi berbagai macam model lampu. Di antaranya lampu tidur, lampu belajar, dan lampu ruang tamu. Semua bentukan lampu tersebut berasal dari bambu.

Rizal membuat kerajinan lampu yang terbuat dari bambu tersebut setiap hari, dengan berbagai model. Ada model untuk ditempel di tembok, model duduk di atas meja, serta model gantung di ruang tamu. “Lampunya bisa sesuai selera masing-masing, Saya hanya menyiapkan saluran kelistrikan yang menghidupkan lampu,” terangnya.

Menurut dia, estimasi waktu pembuatannya selama satu hari. Sebab, bambu yang dijadikan bahan kerajinan tidak mudah ditemukan seperti bambu biasa. “Bambunya tidak sembarangan, agak susah kalau cari di sekitar sini. Namanya bambu tutul,” imbuh Fauzi. Dalam waktu sehari, dia bisa memproduksi satu bentuk lampu hiasan yang terbuat dari anyaman bambu.

Dari proses yang cukup memakan waktu tersebut, harga satu produk berkisar Rp 100 ribu. Harga tersebut cukup murah untuk sebuah karya seni yang mempunyai nilai estetika yang tinggi. “Awalnya saya tidak berpikir untuk menjualnya. Namun, karena tidak terpakai dan ada orang mau beli, ya dijual saja,” katanya.

Fauzi berharap kerajinan tersebut bisa menginspirasi warga setempat, terutama para generasi muda yang masih belum bekerja. “Saya ingin mengajak anak-anak muda untuk belajar kerajinan, agar mereka bisa menghasilkan,” pungkasnya. (mg4/c2/dwi)

  Editor : Safitri
#Jember #Kerajinan