“Mau beli gabah tah? Harga gabah sekarang Rp 4.000,” ucap Suyamin, buruh tani, kepada Jawa Pos Radar Jember, akhir pekan kemarin. Kata dia, harga gabah sekarang mulai membaik dan berangsur naik.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro melakukan monitoring harga gabah kering sawah. Awal pekan ini berkisar Rp 4.400–Rp 4.500 per kilogram. “Waktu panen raya harganya di bawah HPP (harga pokok penjualan, Red) yaitu Rp 3.700 sampai Rp 3.800 per kilogram. Karena sekarang sedikit yang panen, maka ada kenaikan dan melebihi dari HPP, yaitu Rp 4.200 per kilogram,” jelasnya.
Dia mengaku, kondisi harga gabah yang jatuh tersebut selalu terjadi saat puncak panen. Artinya, harus ada sesuatu yang dibenahi mulai dari pemerintah pusat hingga daerah. Terutama soal tata niaganya. Sehingga, HPP itu bisa diterapkan untuk semuanya. Termasuk ke penggilingan swasta. Lebih baik lagi, kata Jumantoro, jika petani juga punya cita-cita menjadi petani yang berdikari. “Penguatan lembaga sampai petani menjual dalam bentuk beras, sehingga punya hasil tawar lebih baik,” ucapnya.
Meski harga gabah membaik, luasan lahan tanaman padi justru menyusut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, luas panen padi pada tahun 2020 sebesar 121,60 ribu hektare mengalami penurunan sebanyak 1,99 ribu hektare atau 1,61 persen bila dibandingkan tahun 2019 yang seluas 123,59 ribu hektare. Luasan panen padi yang menyusut itu juga diikuti dengan produksinya. Pada 2019 lalu, sebesar 616,86 ribu ton gabah kering giling (GKG), turun menjadi 590,26 ribu ton GKG pada tahun 2020.
Bagaimana dengan 2021 ini? Data BPS juga pada luas panen padi awal tahun 2021 yaitu Januari, awalnya cukup menjanjikan dan lebih baik dari Januari 2019 dan Januari 2020. Luas panen padi Januari 2021 sebesar 7,2 hektare, sedangkan Januari 2020 5,8 hektare. Namun, pada April kemarin luas panen 2021 menyusut hanya 36,9 ribu hektare dan tak semanis pada 2020 kemarin yang tercatat sebesar 39,2 ribu hektare.
Jumantoro menambahkan, turunnya produksi tanaman padi di Kabupaten Jember pada 2020 kemarin bukan soal tentang menyusutnya luasan panen padi saja. Tapi juga dipengaruhi turunnya produktivitas. Mengapa demikian? Pria asal Jelbuk ini menambahkan, lantaran tidak ada dukungan dari pemerintah. Terutama tentang pupuk subsidi. “Di tengah pandemi, petani diminta genjot produksinya. Tapi, pupuk subsidinya dikurangi. Bagaimana bisa meningkat,” imbuhnya.
Petani yang secara kekuatan ekonominya tidak kuat, saat tidak memperoleh pupuk subsidi, maka akan keberatan jika diminta memakai pupuk nonsubsidi. Hal itu karena selisih harganya terlalu jauh. Akibatnya, tak sedikit petani menurunkan kadar pupuk, bahkan tidak memakai pupuk. Kondisi inilah yang berakibat pada turunnya produktivitas padi.
Perihal adanya wacana bantuan pupuk nonsubsidi dari Pemkab Jember, kata Jumantoro, hingga saat ini belum terealisasi. Informasi yang dia terima, masih dalam proses pengajuan. “Mungkin sekitar September nanti,” tuturnya. Bantuan pupuk nonsubsidi dari Pemkab Jember ini direncanakan untuk petani yang luasan lahannya di bawah 0,5 hektare.
Mengenai hal itu, Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pemkab Jember Imam Sudarmaji belum bisa menjelaskan tentang perkembangan pupuk bantuan dari Pemkab Jember tersebut. “Maaf, saya masih rapat,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Sebelumnya, seusai hearing di DPRD Jember, akhir Maret 2021 lalu, Imam Sudarmaji menjelaskan, Pemkab Jember menyediakan anggaran sebesar Rp 35 miliar untuk belanja pupuk subsidi sebanyak 5.000 ton. Pupuk tersebut menjadi subsidi petani yang memiliki lahan di bawah 0,5 hektare.
Reporter : Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona