"Harga cabai rawit hijau di pasar masih Rp 2 ribuan per kilogramnya. Kalau lombok sret (cabai keriting, Red) di kisaran Rp 25-30 ribu per kilo," terang Wati, petani cabai asal Balung, saat memanen cabainya di sekitar persawahan Desa Jambearum, Kecamatan Puger, kemarin (8/8).
Sebagai petani, lanjut dia, harga itu belum normal. Bahkan masih murah. Apalagi jika cabai petani diserahkan ke tengkulak. Selisih harganya makin murah. "Ini kadang saya panen cabai, dijual langsung ke pedagang-pedagang di pasar. Tidak ke pengepul," aku petani yang sudah beberapa musim menanam cabai itu.
Harga itu membuat hasil jual cabai petani tidak sebanding dengan ongkos operasional mereka. Sebab, sejak masa tanam, perawatan, sampai panen, jelas banyak biaya yang dikeluarkan petani cabai ini.
Selain harga cabai rawit yang murah, harga cabai keriting juga diakui belum normal. Di pasaran hingga sampai ke konsumen, harganya masih di kisaran Rp 30-35 ribu per kilogram. Itu sudah yang jenis super.
"Kesulitannya memang petani dan pedagang hanya menjual dan membeli. Pemasok atau tengkulak ini yang kadang sulit ditebak. Kadang petani panen, tengkulak mendatangkan cabai banyak dari luar. Itu sudah pasti murah harganya," tambah Hisyam, pedagang di Pasar Reboan, Desa Kasiyan, Kecamatan Puger.
Jika dibandingkan dengan data, hal itu sangat jauh. Pasalnya, dalam pantauan Sistem Informasi Ketersediaan dan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo), Minggu (8/8) kemarin, pada sejumlah pasar di Jember, harga cabai biasa, baik cabai jenis keriting, cabai hijau, maupun cabai merah besar, masih di kisaran Rp 13 ribu per kilogram. Sementara itu, cabai rawit kisaran Rp 22 ribu. Semua itu harga konsumen dan eceran.
Para petani cabai ini berharap hasil panen cabai mereka terserap dengan optimal. Sehingga tidak ada lagi permainan pasar hingga merugikan salah satu pihak, terutama petani. "Naik atau turun itu memang lumrah. Tapi, terpenting sebenarnya harganya normal, sehingga tidak ada lagi petani atau pedagang yang merugi," harap Hisyam.
Jurnalis : Maulana
Fotografer : Maulana
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri