BONDOWOSO, Radar Jember – Penguatan kelembagaan dan pembenahan tata kelola menjadi pekerjaan rumah Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Bondowoso setelah pimpinan dan pengurus periode baru dikukuhkan dan dilantik.
Evaluasi terhadap koperasi yang ada di Bondowoso dinilai penting agar sektor koperasi tidak sekadar bertahan, tetapi mampu berkembang dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
Baca Juga: Dekopinda Harus Jadi “Rumah Nyaman”, Abdul Majid Dorong Koperasi Bondowoso Bertransformasi Digital
Ketua Dekopinda Bondowoso Abdul Majid mengatakan, pihaknya akan melakukan inventarisasi terhadap kondisi koperasi di Bondowoso. Mulai dari koperasi simpan pinjam (KSP), koperasi unit desa (KUD), koperasi pegawai republik Indonesia (KPRI), hingga berbagai bentuk koperasi lainnya akan dipetakan untuk melihat sejauh mana kelembagaan dan kegiatan usahanya berjalan.
“Terus terang kami masih proses inventarisir, pendataan terhadap semua gerakan koperasi. Apakah KSP, KUD, KPRI itu sudah on the track, apakah semangatnya menjalankan kewenangan dan tugas sesuai SOP koperasi,” kata Abdul Majid usai pengukuhan dan pelantikan pimpinan serta pengurus Dekopinda Bondowoso.
Baca Juga: Muscab Dekopinda Bondowoso, Didorong Jadi Organisasi Komunikatif dan Kuatkan Koperasi Sehat
Menurutnya, kondisi koperasi di Bondowoso cukup beragam. Ada koperasi yang berkembang dengan baik, namun terdapat pula koperasi yang aktivitasnya berjalan tidak maksimal hingga mengalami kondisi mati suri. Persoalan tersebut menjadi catatan yang perlu dikaji bersama, termasuk menyangkut sumber daya manusia (SDM), mekanisme kerja, sistem pengelolaan, hingga pengawasan.
“Ini semua akan kita pelajari bersama. Ada koperasi yang sudah hidup, ada yang hidup enggan mati tak mau, ada yang setengah-setengah, dan ada yang melaju cepat. Semua akan kita lihat, termasuk usaha yang potensial untuk dikembangkan,” ujarnya.
Abdul Majid menegaskan, koperasi ke depan tidak boleh hanya identik dengan kegiatan simpan pinjam dan perdagangan. Modernisasi usaha koperasi perlu didorong agar mampu mengikuti kebutuhan masyarakat sekaligus menjadi alternatif penguatan ekonomi di tingkat lokal.
Pembenahan tersebut juga dinilai penting di tengah maraknya masyarakat yang memilih pinjaman online (pinjol) sebagai jalan keluar persoalan pembiayaan.
“Strateginya pertama memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dampak negatif persoalan itu. Kedua, kita harus menguatkan struktur koperasi. Kenapa masyarakat sampai mencari alternatif seperti itu? Saya yakin ada persoalan, mulai SDM, mekanisme, sistem, sampai monitoring,” jelasnya.
Untuk menjalankan agenda tersebut, Dekopinda Bondowoso berencana segera menggelar rapat kerja guna menyusun langkah pembenahan koperasi. Selain itu, bimbingan teknis juga direncanakan pada Oktober-November untuk membahas berbagai persoalan dan perkembangan koperasi di Bondowoso.
Abdul Majid berharap pemerintah daerah turut memberikan dukungan terhadap penguatan koperasi, baik melalui fasilitasi, koordinasi, maupun dukungan program dan penganggaran sesuai kebutuhan.
Editor : Faqih Humaini