Radar Ijen – Upaya menghidupkan kembali budaya baca di Bondowoso terus didorong. Sekretaris Komisi IV DPRD Bondowoso Abdul Majid menegaskan, literasi bukan lagi sekadar program pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak untuk menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan zaman.
Menurut Majid, arus perubahan yang cepat menuntut generasi muda memiliki bekal pengetahuan yang kuat. Tanpa literasi yang baik, generasi mendatang dikhawatirkan rapuh menghadapi derasnya perkembangan teknologi dan informasi. “Kita ingin generasi ke depan ini benar-benar terdidik, berpengetahuan luas, dan siap menghadapi problematika zaman yang semakin kompleks,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Gerakan Literasi Daerah yang digelar sejak awal pekan menjadi langkah konkret untuk menjawab tantangan tersebut. Kegiatan yang melibatkan berbagai komunitas membaca itu mampu menyedot perhatian masyarakat. “Partisipasi cukup tinggi. Artinya minat itu ada, tinggal bagaimana kita dorong dan fasilitasi secara serius,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi yang berlangsung dinamis. Berbagai persoalan mengemuka, mulai dari minimnya dukungan hingga terbatasnya fasilitas. Selama ini, komunitas literasi dinilai masih bergerak sendiri tanpa penguatan yang memadai dari berbagai pihak.
Majid menilai, forum tersebut menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah. Ke depan, penguatan literasi akan disesuaikan dengan kondisi wilayah. Daerah yang dekat dengan perpustakaan diarahkan memaksimalkan layanan yang ada, sementara wilayah terpencil perlu dijangkau melalui layanan jemput bola seperti perpustakaan keliling.
Baca Juga: Si Jago Merah Hanguskan Lahan Tebu di Kecamatan Tapen Bondowoso, Petani Rugi Puluhan Juta
Ia menegaskan, literasi tidak bisa dibebankan hanya pada Perpusip. Seluruh perangkat daerah, khususnya Dinas Pendidikan, harus ikut bertanggung jawab. Sebab, budaya membaca berpengaruh langsung terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), terutama pada indikator lama sekolah dan kualitas pendidikan.
Di sisi lain, Majid mengingatkan ancaman serius dari tingginya ketergantungan terhadap gadget. Kemudahan akses informasi dinilai tidak selalu sebanding dengan kedalaman pemahaman. “Kalau hanya mengandalkan gadget, pemahaman itu cepat tapi tidak melekat. Buku tetap menjadi fondasi. Teknologi harus dikendalikan, bukan justru mengendalikan kita,” pungkasnya.
Editor : M. Ainul Budi