Doa turun-temurun dari leluhur perintis Desa Karanganyar diyakini membawa keselamatan, menolak bala, hingga memohon perlindungan dari penyakit. Masyarakat Desa Karanganyar, Kecamatan Klabang menyebutnya sebagai Pojhien.
ILHAM WAHYUDI, Karanganyar - Radar Ijen
Pojhien masih lestari di Desa Karanganyar, Kecamatan Klabang, Bondowoso. Warga meyakini ritual yang diwariskan selama lima generasi itu sebagai peninggalan leluhur untuk memohon keselamatan, menolak bala, hingga perlindungan dari wabah penyakit.
Tokoh adat sekaligus pewaris Pojhien, Tolak, mengatakan tradisi tersebut berasal dari leluhurnya yang datang dari Madura dan menjadi perintis pembukaan wilayah yang kini menjadi Desa Karanganyar.
Baca Juga: Dibalik Pencangan Desa Budaya di Bondowoso: Ini Daftar Desa Budaya yang sudah Dicanangkan
"Setelah menetap, mereka membuka hutan hingga menjadi perkampungan. Sejak saat itu doa-doa Pojhien mulai dilaksanakan sebagai bentuk permohonan keselamatan," ujarnya.
Sang Maestro Pojhien itu juga menyebut, inti Pojhien adalah doa yang diwariskan secara turun-temurun, untuk memohon kesembuhan bagi warga yang sakit sekaligus keselamatan desa dari berbagai bencana.
Tolak menuturkan, doa tersebut tidak pernah berubah sejak diwariskan leluhur. Ia mulai mempelajarinya secara lisan sejak berusia sembilan tahun. Proses belajarnya tak boleh ditulis di kertas atau alat lainnya.
"Saya belajar sejak umur sembilan tahun. Doanya tidak pernah berubah. Semua diwariskan melalui hafalan dari orang tua kepada anak cucunya," ungkap pria berusia 62 tahun tersebut.
Prosesi paling menarik dalam Pojhien adalah dua orang yang memanjat bambu setinggi sekitar 12 meter, untuk mengamati empat penjuru desa sebagai simbol penjagaan wilayah. "Sebelum naik ada doa khusus dan sesaji. Selama semua syarat dijalankan, kami percaya mereka akan tetap selamat," jelasnya.
Ritual tersebut juga dilengkapi sesaji berupa beras kuning dan aneka bunga. Bunga dimaknai sebagai simbol harapan agar desa senantiasa harum, damai, dan penuh keberkahan.
Pojhien diikuti 25 peserta yang jumlahnya tidak boleh dikurangi karena melambangkan 25 nabi. Sementara dua batang bambu setinggi sekitar 12 meter menjadi simbol 12 bulan dalam setahun. "Siapa saja boleh ikut, asalkan hatinya bersih dan tidak memiliki rasa iri dengki," katanya.
Tolak menegaskan, Pojhien merupakan amanah leluhur yang harus dijaga keasliannya. Menurut dia, masyarakat meyakini Pojhien menjadi ikhtiar memohon hujan saat kemarau sekaligus perlindungan dari wabah penyakit.
Editor : M. Ainul Budi