Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menengok Hari Pertama Sekolah di Bondowoso: Tetap Gelar MPLS Meski Hanya Enam Siswa Baru?

Ilham Wahyudi • Senin, 13 Juli 2026 | 17:51 WIB
SEPI: Salah seorang siswa SDN 2 Dabasah dijemput orang tuanya untuk pulang ke rumahnya. (ILHAM/RJ)
SEPI: Salah seorang siswa SDN 2 Dabasah dijemput orang tuanya untuk pulang ke rumahnya. (ILHAM/RJ)

Radar Ijen - Menurunnya jumlah peserta didik tidak hanya berdampak, pada aktivitas belajar mengajar di sekolah negeri, tetapi juga berpengaruh terhadap kemampuan sekolah membiayai berbagai kegiatan.

Sebab, besaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dihitung berdasarkan jumlah siswa.

Kondisi itulah yang kini dirasakan salah satu SD negeri di pusat Kota Bondowoso. Dengan jumlah murid yang terus menyusut, sekolah harus memutar otak agar kegiatan pembelajaran maupun aktivitas nonakademik tetap berjalan.

Baca Juga: Kepala Dinsos P3AKB Bondowoso: Tegaskan Komitmen Perbaiki Data Bansos dan Layanan Sosial

Salah seorang guru SDN Dabasah 2 Bondowoso, Dina Angraini menjelaskan, dana BOS kerap tidak mencukupi untuk menutup kebutuhan sekolah, seperti perawatan gedung hingga pembiayaan kegiatan perlombaan.

"Karena terus terang memang untuk anggaran BOS sendiri menghitung jumlah murid. Perawatan gedung, biaya kegiatan lomba-lomba, itu kan juga kadang butuh biaya besar," ujarnya.

Di sisi lain, sekolah juga terus berupaya meningkatkan jumlah peserta didik baru.

Berbagai cara dilakukan, mulai sosialisasi ke taman kanak-kanak, promosi melalui media sosial, hingga menggandeng mahasiswa program Asistensi Mengajar dari Universitas Jember untuk membantu publikasi kegiatan sekolah.

Baca Juga: Mulai Seriusi Wacana Bondowoso Republik Kopi Reborn?

Meski begitu, hasilnya belum sesuai harapan. Tahun ajaran ini hanya enam siswa yang mendaftar di kelas I. Sementara total siswa dari kelas I hingga VI kini sekitar 54 anak. "Tahun lalu kelas satu ada 10 orang. Tahun ini hanya enam, jadi turun sekali," ungkapnya.

Sekolah juga menawarkan sejumlah program unggulan, salah satunya pembelajaran agama. Siswa mendapat bimbingan mengaji dan tahfiz secara gratis setelah jam pelajaran usai. "Alhamdulillah ada beberapa anak yang memang tidak tersentuh belajar mengaji di rumahnya, di sekolah bisa mengaji bersama kami," katanya.

Menurutnya, penurunan jumlah siswa tidak hanya dialami sekolah tersebut, tetapi juga sejumlah SD negeri lain di kawasan perkotaan. Salah satu penyebabnya adalah semakin banyaknya sekolah swasta yang menjadi pilihan masyarakat. "Menurut saya wali murid sepertinya lebih percaya dengan SD swasta. Padahal guru negeri pun tidak kalah. PR kami sekarang bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat pada SD negeri," ujarnya.

Meski hanya menerima enam siswa baru, sekolah tetap menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara penuh. "Tetap dilakukan MPLS walaupun muridnya hanya enam orang," pungkasnya.

Editor : M. Ainul Budi
#berita bondowoso #MPLS #Bondowoso