Radar Ijen - Aroma pekat kopi yang baru saja digiling menyeruak di antara kepulan uap air dari mesin espresso. Di sudut meja bar sebuah kedai di kawasan Tamansari, Bondowoso, jemari Ahmad Sofyan tampak begitu cekatan.
Namun, pemandangan pagi itu sedikit tidak biasa. Di samping timbangan digital dan teko leher angsa miliknya, tidak hanya ada biji kopi sangrai (roasted beans), melainkan beberapa potong tape singkong yang masih segar.
Selama ini, tape begitu identik sebagai buah tangan wajib belaka jika seseorang plesiran ke Bondowoso. Makanan hasil fermentasi singkong yang dikemas dalam besek bambu itu biasanya langsung disantap sebagai camilan pendamping teh hangat.
Namun di tangan para peracik kopi kreatif yang tergabung dalam Komunitas Barista Class Bondowoso, takdir tape diubah. Ia naik kelas, didobrak keluar dari pakem lamanya, lalu dipertemukan dengan specialty coffee hingga melahirkan sebuah mahakarya cita rasa baru yang memikat lidah.
Memang, tidak banyak orang yang bisa membayangkan bagaimana kelembutan tekstur tape singkong yang basah bisa menyatu dengan pekat dan pahitnya segelas Americano. Bagi sebagian orang, itu terdengar seperti sebuah eksperimen yang berani, atau bahkan aneh.
Namun, batasan rasa itulah yang justru ingin dilebur oleh para barista lokal. Mereka sukses mengawinkan dua ikon besar daerah tersebut dalam satu racikan yang diberi nama cukup nyentrik dan memancing senyum: E-Kotang. Sebuah akronim kreatif dari Es Kopi Tapai Ngambeng.
Di balik namanya yang sengaja dibuat jenaka agar mudah nempel di ingatan, ada misi besar yang sedang dipertaruhkan. Ini bukan sekadar urusan memuaskan dahaga atau sekadar mencari sensasi viral sesaat di media sosial.
Lebih dari itu, E-Kotang adalah sebuah diplomasi kuliner untuk memperkenalkan wajah baru Bondowoso ke luar daerah.
Baca Juga: Klaim Kisruh OSN Bondowoso Sudah Beres
"Minuman ini seolah menjadi jembatan sejarah. Kami ingin ingatan orang tentang Bondowoso langsung hadir begitu sesapan pertama menyentuh lidah," ungkap Ahmad Sofyan yang juga menjabat sebagai Ketua Komunitas Barista Class Bondowoso tersebut.
Sembari menuangkan air panas ke atas bubuk kopi, ia menambahkan bahwa menu baru ini sangat fleksibel untuk dinikmati dalam berbagai suasana. "Ini bisa disajikan panas maupun dingin, tergantung selera konsumen," imbuhnya.
Pemilihan nama E-Kotang diakuinya sengaja dirancang sebagai pemikat, terutama bagi para pelancong atau wisatawan yang berkunjung ke Bumi Ki Ronggo.
Menurut Sofyan, perpaduan di dalam gelas tersebut merupakan simbol visual dan rasa dari bersatunya dua identitas besar yang selama ini melekat pada kabupaten ini, yakni sebagai Bondowoso Republik Kopi (BRK) sekaligus Kota Tape. Dua predikat utama daerah kini melebur dalam satu produk yang sama.
Namun, mengawinkan dua bahan dengan karakter rasa yang sama-sama kuat ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses uji coba berkali-kali harus dilewati demi menemukan formula yang pas. Pemilihan jenis tape pun memegang peranan krusial.
Dipilihlah tape ngambeng, salah satu varian kuliner legendaris Bondowoso yang dikenal memiliki serat lembut.
Aroma khas serta rasa manis alami yang dihasilkan dari proses fermentasi singkong dinilai mampu berpadu harmonis dengan karakter pahit kopi tanpa harus saling menutupi atau mendominasi.
"Kopinya pun tidak bisa sembarangan. Jenis kopi yang kami pakai adalah kopi asli Bondowoso dengan metode blended, profil sangrai medium roasted, dan wajib masuk kategori kualitas grade 1," papar Sofyan dengan detail mengenai dapur produksinya.
Ketika segelas E-Kotang dingin disajikan dan diseruput, petualangan rasa yang unik langsung terasa. Pahitnya kopi yang tegas mendarat di pangkal lidah, namun sedetik kemudian disusul oleh rasa manis legit yang lembut.
Lengkap dengan sensasi asam segar khas tape yang tertinggal di kerongkongan (aftertaste). Teksturnya menjadi sedikit lebih tebal dibandingkan kopi hitam biasa, memberikan sensasi creamy alami tanpa bantuan susu.
Baca Juga: Selawat Jadi Ruang Serap Aspirasi, PDIP Bondowoso Kemas Politik dengan Sentuhan Spiritual Perjuangan
Meskipun merupakan inovasi baru yang melibatkan proses fermentasi, minuman ini dipastikan sangat aman untuk dikonsumsi, bahkan bagi mereka yang memiliki lambung sensitif.
Proses pembuatannya yang mengedepankan higienitas tinggi dan takaran yang presisi ala barista profesional membuat keseimbangan rasa (balance) tetap terjaga.
Sambil terkekeh, Sofyan bahkan berkelakar bahwa ramuan E-Kotang ini tidak hanya menawarkan pengalaman baru bagi indra pencecap, tetapi juga membawa dampak baik bagi kebugaran tubuh.
Sebab, di dalam satu gelas tersebut, pembeli mendapatkan asupan antioksidan dari kopi spesialti sekaligus zat probiotik alami yang baik untuk pencernaan dari tape pilihan. "Rasanya unik, khasiatnya ada, dan yang pasti setelah minum ini bawaannya bikin happy," kelakarnya lalu tertawa lepas.
Inovasi berani ini sebenarnya pertama kali diperkenalkan secara resmi kepada publik dalam gelaran Festival Muharram beberapa waktu lalu. Hasilnya? Di luar ekspektasi panitia. Stan mereka langsung diserbu pengunjung.
Respons positif datang bergelombang, mulai dari jajaran pejabat pemerintah daerah, camat, kepala desa, hingga tongkrongan anak-anak muda milenial dan Gen-Z yang penasaran dengan rasanya. Mereka semua tampak menikmati kombinasi rasa yang tak biasa tersebut.
Kini, setelah sukses mencuri perhatian, E-Kotang resmi ditasbihkan menjadi salah satu menu pilar andalan dari Komunitas Barista Class Bondowoso. Untuk bisa menikmati satu gelas cerita tentang Bondowoso ini, pembeli tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam.
Harganya dibanderol sangat ramah kantong, hanya Rp 15 ribu per porsi. Demi memperluas jangkauan pasar dan memanjakan pelanggan yang malas keluar rumah, mereka kini juga tengah mematangkan sistem layanan pesan antar (delivery order) yang bekerja sama dengan jasa kurir lokal.
Hadirnya E-Kotang juga memantik komentar dari para pencinta kopi fanatik di Bondowoso. Salah satunya adalah Fida, penikmat kopi asal Kecamatan Wonosari.
Sambil menikmati segelas E-Kotang dingin, perempuan ini menyebut bahwa bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan Bondowoso, kebiasaan menyeruput kopi hitam sembari menggigit sepotong tape sebenarnya adalah pemandangan lumrah sejak zaman kakek-nenek terdengar.
Namun, yang membuat E-Kotang ini istimewa adalah keberhasilan para barista dalam mengemas tradisi lama tersebut menjadi sesuatu yang modern, higienis, dan bernilai jual tinggi. Tradisi yang dulunya dianggap biasa di beranda rumah warga, kini menjelma menjadi sajian berkelas di atas meja kedai modern.
"Menurut saya varian baru kopi ini sangat genius. Ini bukan sekadar jualan minuman, tapi langkah cerdas untuk mem-branding sekaligus mengangkat dua produk unggulan Bondowoso dalam satu wadah secara bersamaan," pungkas Fida sembari mengacungkan jempol. (ham/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh