Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Melihat Jejak Tradisi Penjamasan di Bondowoso, Merawat Pusaka, Menjaga Jejak Leluhur!

Ilham Wahyudi • Selasa, 30 Juni 2026 | 07:00 WIB
DILESTARIKAN: Asrum Setiawan dari Pataka Surabaya menunjukan sejumlah keris yang sudah mengikuti proses penjamasan beberapa waktu lalu. (ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)
DILESTARIKAN: Asrum Setiawan dari Pataka Surabaya menunjukan sejumlah keris yang sudah mengikuti proses penjamasan beberapa waktu lalu. (ILHAM WAHYUDI/RADAR IJEN)

Radar Ijen - Aroma bunga dan air mawar memenuhi Pendapa Agung Panembahan Cakradipuro, Desa Jurang Sapi, Kecamatan Tapen, Selasa (16/6) lalu.

Satu per satu bilah keris dikeluarkan dari warangkanya. Dengan tangan-tangan terampil, pusaka itu dibersihkan melalui prosesi penjamasan yang telah lama menjadi tradisi setiap datangnya 1 Suro.

Menariknya, pendapa yang menjadi lokasi penjamasan merupakan milik penyanyi dangdut asal Bondowoso, Irwan Krisdiyanto, finalis tiga besar D'Academy 2015.

Meski baru memasuki tahun kedua digelar secara rutin, tradisi ini langsung mendapat sambutan hangat dari para pecinta keris, tak hanya dari Bondowoso, tetapi juga Jember dan Situbondo.

Baca Juga: Realisasi Baru 32 Persen, Peremajaan Tebu Jadi Ujian Serius Target Gula di Bondowoso

Puluhan keris berjajar rapi menunggu giliran dijamas. Di sekelilingnya tersaji berbagai uborampe, mulai bubur suro lima warna, bunga sedap malam, buah-buahan, hingga kelapa muda. Semua menjadi bagian dari prosesi yang dijalankan dengan penuh penghormatan.

Asrum Setiawan dari Pataka Surabaya (Induk Paguyuban Senapati Nusantara) menjelaskan, penjamasan lazim dilakukan sejak malam 1 Suro hingga sepuluh hari berikutnya.

Tahapannya dimulai dari membersihkan bilah dengan sabun, merendam, memijat, mengeringkan, hingga menggunakan air warangan untuk memunculkan kembali pamor pada keris. "Ada proses perendaman pusaka dan penyiraman dengan air mawar juga," ujarnya.

Antusiasme masyarakat, lanjut Asrum, terus meningkat. Pada penyelenggaraan perdana tercatat sekitar 200 pusaka dijamas.

Baca Juga: Dispendik Pastikan Proses OSN Sesuai Prosedur, Ini Kronologi Lengkap hingga Hasil Belum Tercantum  

Tahun ini, dalam hitungan jam saja sudah lebih dari 80 keris yang masuk untuk dirawat. "Ini belum termasuk yang dari luar kota. Insyaallah nanti malam mereka datang lagi," imbuhnya.

Menurut Asrum, penjamasan keris kerap dipersepsikan sebagai ritual yang sarat nuansa mistis. Padahal, tujuan utamanya sangat sederhana, yakni merawat bilah pusaka agar tidak berkarat sekaligus menjaga kualitas logamnya. 

Karena itu, keris juga perlu diberi minyak secara berkala.
Lebih dari sekadar perawatan, penjamasan menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

"Untuk melestarikan budaya supaya tidak punah. Insyaallah sekarang banyak anak muda yang mulai suka keris," jelasnya.

Komitmen serupa ditunjukkan Irwan Krisdiyanto. Ia sengaja membuka pendapanya sebagai tempat penjamasan agar para pecinta keris di Bondowoso memiliki ruang untuk merawat pusaka mereka. "Penjamasan ini untuk memudahkan masyarakat Bondowoso yang mencintai keris," terangnya.

Baca Juga: Hasil OSN Belum Tercantum, Dispendik Bondowoso Langsung Koordinasi Intensif dengan Pusat

Irwan sendiri dikenal sebagai kolektor keris. Puluhan pusaka tersimpan di kediamannya, termasuk keris pemberian sesepuh Keraton Sumenep dan Keraton Solo.

Dari sekian koleksi, Dhapur Mundarang berpamor Beras Wutah era Hamengkubuwono III menjadi pusaka yang paling ia banggakan. "Sampai detik ini, Irwan berkomitmen menjaga adat budaya peninggalan sesepuh," pungkasnya. (ham/dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#tradisi leluhur #pelestarian budaya #Pusaka #keris #Bondowoso