DABASAH, Radar Ijen – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus hantavirus di wilayahnya.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada dengan memahami pola penularan dan gejala penyakit yang ditularkan melalui tikus tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso, dr. M. Jasin, mengatakan edukasi terus dilakukan agar masyarakat tidak panik, namun tetap memiliki kewaspadaan.
Menurutnya, hantavirus bisa menyebar dari tikus yang terinfeksi melalui air liur, kotoran, maupun urin yang mencemari lingkungan.
“Penularannya tidak selalu kontak langsung. Hantavirus ini lebih banyak melalui udara yang sudah terkontaminasi partikel dari kotoran atau air liur tikus, kemudian terhirup manusia,” ujarnya kemarin (18/6).
Ia menjelaskan, saat partikel tersebut mengering dan bercampur dengan debu, risiko penularan semakin tinggi.
Terutama di tempat-tempat tertutup seperti gudang, rumah kosong, atau area yang jarang dibersihkan dan menjadi sarang tikus.
Menurut Jasin, hantavirus bukan penyakit baru. Secara global, penyakit ini sudah dikenal sejak tahun 1950-an dan pernah ditemukan di Indonesia pada era 1980-an. Bahkan, beberapa kasus di luar daerah sempat menyebabkan karantina karena potensi penyebarannya yang cepat.
Gejala awal yang muncul umumnya berupa demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri otot. Namun, hantavirus juga dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius seperti sesak napas, karena virus menyerang paru-paru.
Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas di lingkungan berisiko.
Penggunaan masker, menjaga kebersihan, serta menghindari kontak dengan area yang terkontaminasi tikus menjadi langkah penting dalam pencegahan.
“Alhamdulillah sampai sekarang belum ada kasus di Bondowoso. Tapi kalau ada gejala yang mengarah, segera periksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit agar bisa dideteksi dan ditangani sejak dini,” pungkasnya. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi