PEMBANGUNAN Jembatan Sentong yang menghubungkan Bondowoso dan Jember kembali menjadi sorotan.
Proyek strategis senilai miliaran rupiah itu dinilai harus segera dituntaskan menyusul dampak yang kian dirasakan masyarakat, terutama pada sektor ekonomi dan mobilitas.
Anggota DPRD Jatim dari Fraksi Gerindra, Ahmad Hadinuddin, menegaskan percepatan pembangunan menjadi kebutuhan mendesak.
Ia menilai, keterlambatan proyek di Kelurahan Nangkaan, Kecamatan Bondowoso tersebut tidak boleh terus dibiarkan tanpa langkah konkret dari pemerintah.
Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di Bondowoso, Sabtu (20/6). Dalam forum tersebut, ia mendorong agar pemerintah daerah memperkuat koordinasi dengan pemerintah provinsi maupun pihak terkait lainnya.
Menurutnya, percepatan bisa dilakukan dengan menyusun timeline pengerjaan yang jelas serta meningkatkan komunikasi dengan pihak ketiga sebagai pelaksana proyek.
Baca Juga: Evaluasi SPPG Wajib Diperkuat, DPRD Bondowoso Dorong Perbaikan dan Refocusing Anggaran
Bahkan, jika diperlukan, keterlibatan Pemerintah Provinsi Jawa Timur harus dioptimalkan agar penyelesaian tidak kembali molor.
“Harus segera dibicarakan dengan pihak ketiga. Jika memang menjadi kewenangan provinsi, maka perlu dilibatkan agar ada percepatan,” ujarnya.
Ia menyoroti dampak nyata yang sudah dirasakan masyarakat akibat lambannya pembangunan.
Selain mengganggu pengguna jalan, kondisi tersebut juga menekan aktivitas ekonomi warga sekitar, terutama mereka yang bergantung pada kelancaran arus transportasi.
Tak hanya itu, pengalihan arus lalu lintas selama proyek berlangsung turut membebani jalan alternatif hingga menyebabkan kerusakan di sejumlah titik. Kondisi ini dinilai memperparah dampak yang ditimbulkan jika proyek terus berlarut.
Dengan anggaran sekitar Rp17,5 miliar, Ahmad menegaskan pekerjaan harus dimaksimalkan.
Penambahan tenaga kerja dan penggunaan alat modern menjadi langkah yang dinilai efektif untuk mempercepat penyelesaian, sehingga konektivitas Bondowoso–Jember segera pulih dan aktivitas ekonomi kembali normal. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi