DABASAH, Radar Ijen - Bondowoso sebenarnya punya Tari Topeng Konah yang sudah masuk warisan budaya tak benda Indonesia. Namun, pada momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Pemkab justru memilih menampilkan Tari Remo Sutinah. Keputusan ini memantik pertanyaan soal arah pelestarian budaya lokal.
Pemkab Bondowoso memilih menampilkan Tari Remo Sutinah dalam peringatan Hardiknas, Senin (4/5). Pilihan ini diklaim sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal dan penguatan identitas daerah.
Namun disisi lain, Bondowoso sejatinya memiliki Tari Topeng Konah yang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.
Baca Juga: Stok Aman 70 Ribu Ton, Bulog Bondowoso Pastikan Ketahanan Pangan hingga Panen Berikutnya
Absennya tarian tersebut dalam momentum nasional justru memunculkan tanda tanya.
Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso Taufan Restuanto menjelaskan, pemilihan tarian dilakukan secara bergantian setiap tahun.
"Kebetulan sekarang memilih Remo Sutinah. Tahun depan juga akan tari-tari lain kita tampilkan," kata Taufan.
Ia menyebut, Tari Remo Sutinah dipilih karena memiliki nilai historis yang kuat. Tarian ini terinspirasi dari sosok Sutinah, pejuang asal Bondowoso yang mengekspresikan perjuangannya melalui seni.
Menurut Taufan, tari tersebut sebenarnya sudah lama ada, namun kini kembali dihidupkan agar lebih dikenal, khususnya oleh kalangan pelajar.
"Ini khas Jawa Timur, tetapi kita punya kekhasan yang diciptakan oleh Bu Sutinah, warga asli Bondowoso," tuturnya.
Baca Juga: Update Laka Lantas Jember Terbaru: Bentor Oleng Tabrak Scoopy
Sementara itu, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid menegaskan bahwa penggunaan pakaian adat dan penampilan seni tradisional dalam Hardiknas merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
"Kami walaupun di daerah tetap menghargai dan mengenal budaya-budaya lain," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pelestarian Tari Remo Sutinah sebagai identitas lokal. Meski tidak semua mendapat panggung yang sama. Ketika momentum besar datang, keputusan yang diambil akan selalu mengundang tafsir, antara strategi pelestarian atau justru pengabaian.
"Termasuk Remo Sutinah, itu perlu kita perkuat dan lestarikan sebagai identitas serta kearifan lokal Bondowoso," pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi