SUKOREJO, Radar Ijen - Kopi Bondowoso kembali dilirik pasar global. Perwakilan lembaga keuangan internasional dari Singapura datang langsung ke kebun petani, kemarin (4/5).
Pujian pun mengalir. Namun di balik peluang ekspor, petani menuntut lebih dari sekadar transaksi yakni kesejahteraan dan keberlanjutan.
Daya tarik kopi Bondowoso kian melejit di mata dunia. Dua perwakilan lembaga keuangan internasional berbasis di Singapura, Charles dan Freedy, datang langsung untuk melihat potensi tersebut.
Keduanya menyambangi kebun kopi milik Mulyadi, petani asal Kecamatan Tapen. Mereka tak sekadar berkunjung, tetapi menelusuri seluruh rantai produksi dari hulu hingga hilir.
Charles mengaku terkesan dengan karakter kopi Bondowoso yang dinilai otentik dan natural. Menurutnya, potensi pasar global, khususnya Eropa, terbuka lebar.
"Kita sangat tertarik untuk itu, dan akan meningkatkan nilai tambah dari tanaman kopi disini," ujarnya.
Namun, ketertarikan itu bukan berdiri sendiri. Charles menyebut pihaknya telah berkeliling ke berbagai negara penghasil kopi. "Kualitas kopi disini (Bondowoso, red) sangat fantastik," jelasnya.
Misi besarnya adalah menyiapkan ketahanan pangan global, di tengah ancaman krisis iklim dan pertumbuhan populasi.
Singapura, kata dia, memiliki peran strategis sebagai pusat ketahanan pangan Asia bagi negara-negara maju. Karena itu, pendekatan yang dibawa tidak hanya soal ekspor komoditas.
Selain membidik pasar Eropa, mereka juga ingin mendorong peningkatan kualitas kopi berbasis teknologi, sekaligus mengerek kesejahteraan petani.
Tujuannya jelas, pertumbuhan industri berjalan, masyarakat sekitar ikut sejahtera.
Di sisi lain, petani punya harapan sekaligus catatan. Mulyadi, petani kopi asal Desa Mangli, Kecamatan Tapen, menilai kunjungan tersebut sebagai momentum mengenalkan identitas kopi Bondowoso.
"Tahun 2014-2017 Bondowoso terkenal dengan kopi specialty," ungkapnya.
Baca Juga: Dinggap Berada di Wilayah yang Tak Kondusif, Mahasiswa Asal Bondowoso Dipulangkan dari Iran
Ia menegaskan, daya tarik kopi Bondowoso tidak hanya pada rasa, tetapi juga pada cara bertani yang masih alami.
Mulai dari penggunaan ampas kopi sebagai pupuk hingga kondisi kebun yang tetap terjaga. "Sesuatu yang pelestarian alamnya tetap jalan," ujarnya.
Namun, Mulyadi mengingatkan agar ketertarikan investor tidak berhenti pada eksplorasi potensi. Ia berharap ada dampak konkret bagi ekosistem kopi, terutama bagi kesejahteraan petani dan pekerja.
Selain itu, investasi juga diharapkan ikut menjaga kelestarian lingkungan. Baginya, bisnis dan konservasi harus berjalan beriringan.
"Kita juga mau mengenalkan budaya ketimuran yang tetap terjaga," pungkasnya. (*)
Editor : Ilham Wahyudi