TENGGARANG, Radar Ijen - Gejolak geopolitik global mulai terasa hingga ke daerah. Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz, memicu tersendatnya pasokan minyak dunia.
Dampaknya merembet ke berbagai sektor, termasuk melonjaknya harga bahan baku plastik (nafta) yang kini naik drastis hingga 40 sampai 100 persen di Indonesia.
Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Wakil Ketua DPRD Bondowoso sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan, Sinung Sudrajad.
Ia menilai, kenaikan harga plastik bukan semata ancaman, melainkan peluang untuk mendorong perubahan pola hidup masyarakat agar lebih ramah lingkungan.
“Sejak awal, musuh besar kelestarian alam adalah sampah plastik. Kenaikan harga ini harus kita jadikan momentum untuk benar-benar meminimalisir penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Sinung saat dikonfirmasi, Senin (6/4).
Menurutnya, berbagai inovasi pengolahan limbah plastik sebenarnya sudah berkembang di tengah masyarakat, mulai dari diubah menjadi furnitur, paving block hingga bahan bakar alternatif.
Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup jika penggunaan plastik dari hulunya tidak ditekan.
Sinung justru mengajak masyarakat Bondowoso untuk kembali menengok kearifan lokal yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan penggunaan daun sebagai kemasan alami yang dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus mudah didapat di daerah.
“Dulu leluhur kita menggunakan daun jati, daun pisang, dan lainnya sebagai pembungkus. Di Bondowoso ini sumbernya melimpah. Kenapa tidak kita manfaatkan lagi dengan cara yang lebih kreatif dan sederhana,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi krisis sejatinya akan memaksa manusia berpikir lebih cerdas dan adaptif.
Termasuk dalam menyiasati lonjakan harga plastik yang kini mulai dirasakan oleh pedagang maupun pelaku usaha kecil di pasar tradisional.
Lebih jauh, Sinung mendorong pemerintah daerah agar ikut memberi contoh nyata dalam pengurangan penggunaan plastik.
Mulai dari membatasi kantong plastik dalam kegiatan resmi hingga menggalakkan penggunaan tas ramah lingkungan atau kantong belanja dari rumah.
“Pedagang juga harus mulai menghitung ulang. Dengan harga plastik yang terus naik, penggunaan bungkus daun bisa jadi lebih efisien. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga upaya menjaga lingkungan untuk jangka panjang,” pungkasnya. (faq/bud)