Pagi itu, suasana di markas Yonif 514/Sabaddha Yudha terasa berbeda. Barisan prajurit berdiri tegap di lapangan. Seragam loreng yang dikenakan bukan sekadar simbol, tetapi penanda kesiapan menjalankan tugas besar, menjaga perdamaian dunia.
Upacara pelepasan Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-T/UNIFIL digelar, Sabtu (4/4). Dari tempat itu, perjalanan panjang akan dimulai. Bukan langsung ke medan tugas, melainkan menuju tahap awal, Pre-Deployment Training di Bogor. Sebuah fase penting sebelum benar-benar diberangkatkan ke Lebanon.
Baca Juga: Republik Cendol: Gincu di Layar, Debu di Jalanan
Di antara para pejabat yang hadir, Letkol Inf Prawito, Dandim 0822 Bondowoso berdiri menyampaikan pesan. Nada suaranya tegas, tetapi menyimpan kebanggaan.
“Ada satuan dari wilayah kita yang mewakili Indonesia, dalam penugasan internasional di Lebanon,” ujarnya.
Bagi Bondowoso, ini bukan sekadar seremoni. Ini tentang identitas. Tentang daerah kecil yang turut ambil bagian dalam panggung global.
Nama Indonesia akan dibawa oleh para prajurit ini, di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui misi United Nations Interim Force in Lebanon.
Baca Juga: Tiga Nama Muncul di Muscab PKB Bondowoso, DPP Akui Proses Pemetaan dari Bawah
Namun, di balik kebanggaan itu, ada risiko yang tak bisa diabaikan.
Lebanon, dengan dinamika keamanannya, menuntut kewaspadaan tinggi.
Karena itu, pesan yang disampaikan bukan hanya tentang semangat, tetapi juga tentang disiplin.
“Selalu waspada, disiplin, dan taati SOP yang berlaku. Yang paling utama, jangan lupakan untuk selalu berdoa dan menyertakan Tuhan dalam setiap kegiatan,” katanya.
Sebab bagi seorang prajurit, tugas bukan hanya soal keberanian.
Ada tanggung jawab, ada kehormatan, dan ada keluarga yang menunggu di rumah.
“Penugasan adalah kebanggaan bagi seorang prajurit. Harga diri yang harus diperjuangkan dalam kondisi apapun,” pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi