DABASAH, Radar Ijen - Di tengah tekanan anggaran, setiap rupiah dihitung. Bahkan lampu jalan pun kini diawasi lebih ketat, bukan untuk dipadamkan, tapi agar biayanya lebih efisien.
Malam hari, lampu penerangan jalan umum (PJU) tetap menyala di berbagai sudut Bondowoso.
Namun di balik cahaya itu, ada upaya senyap yang tengah dilakukan pemerintah daerah: menekan biaya listrik yang selama ini membengkak.
Baca Juga: Republik Cendol: Gincu di Layar, Debu di Jalanan
Melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Bondowoso, konversi sistem pembayaran PJU dari metode taksasi ke meterisasi mulai dijalankan.
Langkah ini bukan tanpa alasan, Selama ini, biaya untuk sekitar 10 ribu unit PJU di seluruh kabupaten mencapai Rp 1,3 miliar setiap bulan. Angka yang cukup besar, terutama di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), Deky Andi Prasetyo, menyebut metode taksasi dinilai kurang akurat karena berbasis perkiraan.
Sebaliknya, meterisasi menggunakan pengukuran riil konsumsi listrik di lapangan.
Hasilnya mulai terlihat. Pada 2025, sebanyak 312 unit PJU telah dikonversi.
Baca Juga: Antrean Semu Program RANTAS
Dari perubahan itu, tercatat penghematan mencapai Rp 682 juta.
“Kemarin 2025 hasil dari taksasi itu yang berubah ke meterisasi, ada penghematan Rp 682 juta,” ujarnya.
Proses konversi tidak dilakukan sembarangan. Dishub terlebih dahulu melakukan survei bersama PLN, mengingat kewenangan teknis berada di pihak penyedia listrik. Ke depan, langkah serupa akan dilanjutkan.
Pada 2026, survei konversi direncanakan menyasar wilayah Kecamatan Wonosari dan Prajekan, dua kawasan yang dinilai memiliki potensi efisiensi cukup besar.
Bagi masyarakat, perubahan ini mungkin tak terlihat langsung. Lampu tetap menyala seperti biasa.
Namun bagi pemerintah daerah, selisih biaya yang dihemat bisa dialihkan untuk kebutuhan lain yang tak kalah penting.
“Ini salah satu upaya penghematan yang dilakukan oleh Dishub,” pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi