Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tekan Biaya Untuk Lampu Jalan, Begini Upaya Dishub Bondowoso Untuk PJU

Ilham Wahyudi • Sabtu, 4 April 2026 | 06:38 WIB
LEBIH HEMAT: Salah seorang warga melewati jalan yang ada di Bondowoso, saat ini pembayaran PJU dikonversi menjadi meterisasi dari taksasi. (ILHAM/RJ)
LEBIH HEMAT: Salah seorang warga melewati jalan yang ada di Bondowoso, saat ini pembayaran PJU dikonversi menjadi meterisasi dari taksasi. (ILHAM/RJ)

DABASAH, Radar Ijen - Di tengah tekanan anggaran, setiap rupiah dihitung. Bahkan lampu jalan pun kini diawasi lebih ketat, bukan untuk dipadamkan, tapi agar biayanya lebih efisien.

Malam hari, lampu penerangan jalan umum (PJU) tetap menyala di berbagai sudut Bondowoso.

Namun di balik cahaya itu, ada upaya senyap yang tengah dilakukan pemerintah daerah: menekan biaya listrik yang selama ini membengkak.

Baca Juga: Republik Cendol: Gincu di Layar, Debu di Jalanan

Melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Bondowoso, konversi sistem pembayaran PJU dari metode taksasi ke meterisasi mulai dijalankan.

Langkah ini bukan tanpa alasan,  Selama ini, biaya untuk sekitar 10 ribu unit PJU di seluruh kabupaten mencapai Rp 1,3 miliar setiap bulan. Angka yang cukup besar, terutama di tengah kebijakan efisiensi anggaran.

Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), Deky Andi Prasetyo, menyebut metode taksasi dinilai kurang akurat karena berbasis perkiraan.

Sebaliknya, meterisasi menggunakan pengukuran riil konsumsi listrik di lapangan.
Hasilnya mulai terlihat. Pada 2025, sebanyak 312 unit PJU telah dikonversi.

Baca Juga: Antrean Semu Program RANTAS

Dari perubahan itu, tercatat penghematan mencapai Rp 682 juta.

“Kemarin 2025 hasil dari taksasi itu yang berubah ke meterisasi, ada penghematan Rp 682 juta,” ujarnya.

Proses konversi tidak dilakukan sembarangan. Dishub terlebih dahulu melakukan survei bersama PLN, mengingat kewenangan teknis berada di pihak penyedia listrik. Ke depan, langkah serupa akan dilanjutkan.

Pada 2026, survei konversi direncanakan menyasar wilayah Kecamatan Wonosari dan Prajekan, dua kawasan yang dinilai memiliki potensi efisiensi cukup besar.

Bagi masyarakat, perubahan ini mungkin tak terlihat langsung. Lampu tetap menyala seperti biasa.

Namun bagi pemerintah daerah, selisih biaya yang dihemat bisa dialihkan untuk kebutuhan lain yang tak kalah penting.

 “Ini salah satu upaya penghematan yang dilakukan oleh Dishub,” pungkasnya. (ham/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#DISHUB #Bondowoso #PJU