PAKUWESI, Radar Ijen - Di balik pintu rumah sederhana di pelosok Curahdami, harapan itu sempat redup. Hingga langkah seorang Kapolres datang, bukan hanya membawa bantuan, tetapi memastikan nyala itu benar-benar hidup.
Pagi itu, suasana Desa Pakuwesi, Kecamatan Curahdami, berjalan seperti biasa. Tenang, nyaris tanpa riuh. Di salah satu sudutnya, seorang lansia tunanetra menjalani hari dalam sunyi.
Sendiri. Dengan keterbatasan yang membuat aktivitas sederhana pun menjadi tantangan. Namanya Ibu Lima.
Baca Juga: Puluhan Mahasiswa Geruduk Pemkab Bondowoso, Kuliti APBD Hingga Anggaran Infrastruktur
Kebutuhannya tak muluk. Hanya sebuah kompor gas agar bisa memasak dan bertahan menjalani hari. Namun bagi sebagian orang, hal sederhana itu justru menjadi kemewahan.
Kabar tentang kondisi Ibu Lima sampai ke telinga aparat desa melalui Bhabinkamtibmas setempat, Aiptu Ahmad Abadi.
Laporan itu kemudian bergerak cepat, menembus rantai komando hingga sampai ke Kapolres Bondowoso, AKBP Dr Aryo Dwi Wibowo.
Baca Juga: Siapkan Tiga Pos Pengamanan, Bupati Bondowoso dan Kapolres Cek Kesiapan Personel
Tanpa banyak jeda, keputusan diambil, Rabu (18/3), Kapolres datang langsung ke rumah Ibu Lima. Bukan sekadar menyalurkan bantuan, tetapi memastikan setiap detailnya benar-benar siap digunakan.
Kompor gas itu tak hanya diserahkan. Regulator terpasang. Tabung terisi. Semua dirangkai hingga siap pakai.
Di hadapan Ibu Lima, Kapolres bahkan membimbing langsung cara penggunaan kompor dengan aman. Perlahan. Sabar. Memastikan tak ada kesalahan yang berpotensi membahayakan.
Bantuan pun tak berhenti di satu rumah. Di sekitar lokasi, lima warga kurang mampu lainnya, turut menerima bantuan serupa. Kompor gas lengkap, paket sembako, hingga santunan mengalir, menyentuh mereka yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Langkah itu berlanjut ke Desa Kupang. Polanya sama, mendatangi, melihat langsung, lalu memberi dengan memastikan manfaatnya benar-benar terasa.
“Momentum Ramadan mengajarkan kita untuk saling peduli dan berbagi. Ini juga menjadi bagian dari pengamalan sumpah Polri, bahwa kami hadir untuk melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat dengan sepenuh hati,” ujar AKBP Dr Aryo Dwi Wibowo, Kapolres Bondowoso.
Bagi warga, kehadiran itu terasa berbeda. Bukan sekadar pejabat yang datang membawa bantuan, melainkan sosok yang benar-benar hadir dan memahami.
Kepala Desa Pakuwesi, Syahrullah, tak menyembunyikan rasa hormatnya. “Secara pribadi saya sangat kagum atas kepemimpinan beliau yang merangkul semua kalangan dan peduli sesama,” ungkapnya.
Baca Juga: Megengan di Lapas Bondowoso, Warga Binaan Diajak Bersihkan Hati Dalam Menyambut Ramadan
Di bulan Ramadan yang sarat makna, kisah di rumah Ibu Lima menjadi pengingat sederhana, bahwa kepedulian tak selalu harus besar. Kadang, cukup memastikan satu kompor menyala, agar harapan tak ikut padam. (ham)
Editor : Ilham Wahyudi