Radar Ijen - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan di Bondowoso menuai sorotan. Bagi Sebagian warganet Bondowoso yang bermain di media sosial, mungkin lini masa mereka atau beranda di berbagai platform muncul keluh kesah menu MBG akhir-akhir ini. Bahkan di akun Instagram Lambe Turah, menu MBG di Bondowoso ini pun viral.
Puluhan ribu warganet memberikan komentar. Dalam captionnya pada akun Instagram lambeturah_official pun cukup menohok. “Menu diet mungkin nder....” tulis mereka.
Sejumlah wali murid mengeluhkan kualitas menu makanan kering yang dinilai jauh dari standar gizi dan pengemasan layak.
Mulai buah hampir layu, tanpa susu, hingga dibungkus plastik kresek.
Pelaksanaan program MBG di sejumlah sekolah di Bondowoso memasuki Ramadan dengan format menu kering. Namun, alih-alih mendapat apresiasi, pelaksanaannya justru menuai keluhan dari wali murid.
Di SDN Dabasah 3 Bondowoso, seorang wali murid berinisial AI mengaku kecewa dengan paket makanan yang diterima anaknya pada 23 Februari lalu. Menu tersebut, kata dia, hanya berisi dua pisang kecil yang hampir layu, tiga butir kurma, sekitar 10 biji kacang kedelai dalam plastik klip, dan satu buah roti.
"Kami sebagai orang tua merasa miris melihatnya," ujarnya.
AI menilai, niat pemerintah melalui program unggulan Presiden RI itu patut diapresiasi. Namun, ia menyayangkan lemahnya kontrol distribusi dan mutu makanan di tingkat pelaksana.
Menurutnya, bukan hanya dirinya yang mengeluh. Banyak wali murid lain merasakan hal serupa, tetapi memilih diam karena khawatir berdampak pada sekolah maupun anak mereka.
"Jika tujuannya menciptakan Generasi Emas, tapi mutunya begini, yang lahir bukan emas, perak, atau perunggu, bisa jadi malah generasi besi tua," ucapnya.
Keluhan serupa datang dari wali murid di SMKN 1 Bondowoso, berinisial VG. Ia menyoroti pengemasan makanan yang dinilai tidak layak karena hanya menggunakan plastik kresek putih.
Menurutnya, isi paket berupa jeruk hijau kecil yang kecut, selembar keju, sepotong roti tawar, dan kacang hijau dalam plastik klip.
"Isinya jeruk hijau kecil yang kecut, selembar keju, sepotong roti tawar, dan kacang hijau di plastik klip. Seperti mau ke pasar saja pakai kresek begini," ungkapnya.
Sementara itu, MR, wali murid di Kecamatan Wringin, mengaku kesal dengan kualitas menu. Meski demikian, ia tidak sepakat jika dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ditutup karena menyangkut mata pencaharian pekerja. "Kualitas MBG-nya saja yang harus diperbaiki," tegasnya. (ham/bud)